Tanda tanda alam jangan diabaikan.

Pertanyaan: Sering terjadi fenomena aneh sebelum  bencana alam atau musibah yang dialami suatu tempat, diantaranya musibah tanah longsor yang menelan korban sangat banyak yang  dihubungkan dengan banyaknya lele bermunculan di sungai.  Ada yang beranggapan menghubungkan fenomena ini  dengan musibah/bencana  tanah lonsor tidak ilmiah atau tahayul. Bagaimana tanggapan Akungibnu?

Jawaban: Menurut Akungibnu manusia dapat menjadi cerdas karena berguru pada alam dan lingkungannya, untuk dimanfaatkan  “menghadapi alam dan lingkungannya” yang berlaku tidak sesuai dengan yang diinginkan  manusia.  Namun setelah cerdas manusia menjadi tidak takut pada alam sehingga cenderung merusak kelestarian alam dan lingkungannya.

Untuk mengimbangi fikiran yang “menyesatkan”   dibutuhkan dogma yang alami  atau doktrin yang ilmiah. Keseimbangan antara fikiran dengan dogma dalam psycho minimalis dinamakan Spiritual Religious, atau Religious Spirituality (RS)  yang notasinya “(><)’.

RS  menjadikan Sang Pencipta Alam sebagai  Sang Pengatur Alam hingga disebut  Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tuhan YMK menjanjikan kehidupan abadi yang lebih baik dari kehidupan dunia yang tidak abadi bagi yang mematuhi petunjuk dan perintah Nya  dan memberikan sangsi pada yang ingkar. SR bersifat alami dan universal.

Sayang, sebagai akibat perkembangan fikiran menjadi akal dan dogma menjadi batin yang individual namun ilmiah, maka Spiritual Religius terpecah-pecah menjadi berbagai agama yang masing-masing memiliki buku suci dan iman yang berbeda-beda.

Paling tidak RS  terpecah menjadi agama langit dan agama bumi, yang masing-masing terpecah lagi menjadi berbagai agama.

Sebagai contoh  ada agama  yang umatnya sepenuhnya patuh pada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga meyakini segala yang terjadi adalah atas kehendak Nya jadi harus diterima sebagai takdir yang telah digariskan oleh Tuhan YMK.  Namun ada ayat yang menyatakan: Tuhan tidak akan merubah nasib umatnya yang tidak berusaha  merubah nasibnya.

Apakah takdir berbeda dengan nasib? Bencana alam/musibah  dapat ditafsirkan sebagai takdir atau nasib, sehingga sering dicampur adukkan.

Inilah cara untuk menganalisa fenomena takdir dan nasib agar tidak dicampur adukkan berdasar SS:

Menurut Scientific Spiritualisme (SS): Dalam menghadapi bencana alam dan musibah setiap living organisme dianugerahi kelebihan dan kekurangan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Teori Som Wyn:

1. Tuhan YME menyediakan segalanya yang disukai dan yang tak disukai oleh ciptaan Nya, termasuk manusia.

2. Tuhan YME  membekali kesadaran pada macrocosmos (yang terbentuk dari berbagai energi)  untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing- masing sehingga dapat menjadi teratur, namun masih mungkin tidak teratur akibat berebut kepentingan. Seandainya semua diatur oleh Tuhan YME pasti macrocosmos akan  selalu dalam kondisi teratur. Musibah dan bencana alam terjadi akibat saling berebut kepentingan.

3. Tuhan YME memberikan pilihan kepada setiap ciptaan Nya yang berupa macrocosmos maupun microcosmos untuk menjadi  pengikut yang taat pada yang diikuti, atau menjadi yang diikui yang sanggup mengatur pengikutnya. Ada pilihan lain: tidak menjadi pengikut atau “pemimpin” karena telah dibekali kesadaran untuk mengurusi diri,  jenis dan lingkungan masing-masing.

4. Semua yang terjadi adalah ulah ciptaan Nya, namun pasti telah mendapatkan izin Nya. Tanpa izin Nya tak mungkin terjadi.

5. Izin itu hanya akan diberikan kepada yang sanggup berusaha dan berbuat untuk mencapai keinginan masing-masing  dan berani menanggung risikonya.

Berdasarkan kenyataan: di bumi yang bagaikan debu di Alam Semesta namun memiliki biosfera terdapat living organisme yang merupakan interaksi antara organisme dengan soul atau spirit.

a. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat menghindari bencana alam, mati hidup tergantung dari lingkungannya/tanah tempat tumbuhnya, ini dapat dianggap sebagai takdir karena tak mempunyai pilihan untuk mengubah nasibnya saat menghadapi bencana lam/musibah. walau masih hidup.

b. Hewan sanggup menghindari bencana alam  dengan meninggalkan tempat sebelum terjadi  bencana. Hewan akan segera meninggalkan tempat yang dirasa tidak aman secara alami tanpa memikirkan akibat meninggalkan lokasi yang telah lama menghidupinya, pokoknya selamat. Hewan berupaya mengubah nasibnya berdasar instingnya , jika tetap ditempat bencana akan menjadi korban bencana tersebut, artinya bagi hewan takdir hanya terjadi saat dia tak sanggup lagi merubah nasibnya.

c.  Manusia dapat membuat peralatan fisika untuk mendeteksi akan terjadinya bencana. Ini upaya manusia untuk merubah nasib agar terhindar dari bencana. Dalam  menghadapi bencana manusia tidak akan”secepat” binatang  dalam bertindak. Mengapa? Manusia mempertimbangkan “risiko” meninggalkan lokasi yang telah lama memberikan kehidupan.

Manusia sebenarnya sanggup meninggalkan tempat yang akan terjadi bencana baik dengan mengamati tanda-tanda alami atau tanda-tanda ilmiah, namun karena memiliki fikiran dan keyakinan manusia berani mempertaruhkan nasibnya.  Takdir  bagi manusia  baru akan terkuak/terbukti  setelah terjadinya suatu kejadian yang berakibat fatal (kematian), sehingga tidak mungkin lagi merubah nasibnya.  Kalau selamat berarti masih ada kesempatan untuk merubah nasib, jika jadi korban bencana hingga mati maka tak ada kesempatan untuk merubah nasib.

Dengan akal budinya manusia sanggup  memilih dalam menghadapi bencana alam, menghindari bahaya atau menantang bahaya, inilah perbedaan hewan yang hanya mengandalkan instingnya dengan manusia yang menggunakan akal budinya.

Seharusnya manusia telah menyiapkan diri dalam menghadapi musibah atau bencana alam, tidak berserah menanti datangnya  takdir , sebab tak ada yang tahu takdir yang bakal terjadi  sebelum terjadinya musibah/bencana, takdir hanya diketahui oleh yang menciptakan takdir.

Tanda-tanda alami maupun ilmiah sebaiknya tidak diabaikan, kecuali bagi yang memang menyerahkan diri pada takdir yang sering dijadikan alasan untuk menghindari pertanggungan jawab atas kelalaian dalam menghadapi musibah atau bencana alam.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s