HANTU yang balas dendam

Fragmen STPH.

Ini tanggapan pada tulisan “HANTU” yang baik hati dari seorang kemenakanku: Sebaiknya temu muka, berbicara dari hati ke hati menuju solusi WIN-WIN, yang kadang menyita waktu, memang, daripada ikut/melibatkan kerugian masyarakat tak tersangkut urusan! Suka WIN-WIN SOLUTION.

Saran kemenakanku itu sangat idealis dan hanya hanya mungkin digunkan  jika kedua belah fihak menggunakan metoda Seven Habit yang tidak mudah diterapkan dalam menyelesaikan masalah sengketa dalam memperebutkan kepentingan.

Menurut Teori Som Wyn, masing-masing ciptaan Tuhan YME diberi kesadaran (consciousness)  untuk mengurus diri , jenis dan lingkungan masing-masing, sehingga kondisi cosmos dapat menjadi chaos akibat berebut kepentingan, namun akan kembali cosmos saat masing-masing menyadari kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bersama.

Ini caraku untuk ikut mengatasi masalah yang terjadi di-lingkunganku, sebab aku akan ikut mengalami dampaknya, saling mengfhancurkan. Ada metoda yang sangat sederhana: agar hidup damai: Yang kuat jangan bersikap adigang-adigung adiguna, yang lemah tahu diri.

Karena lahan semakin sempit, maka pembangunan rumah susun dan apartment merupakan solusinya, namun harus diperhatikan dampak lingkungan, misalnya: masalah limbah, penyediaan air jernih, jalan masuk/keluar lingkungan, keamanan/kebersihan dan keindahan lingkungan, keselamatan warga sekitar dan penghuni rumah susun saat terjadi bencana alam, penyediaan energi listrik yang cukup dan adil, penyediaan tempat parkir kendaraan  dll.

Saat harga tanah tinggi para pengembang akan berlomba-lomba “mencari untung sebesar-besarnya” dengan membangun rumah susun/apartment tanpa memperhatikan dampak lingkungan , sebaliknya rakyat disekitarnya yang telah hidup mapan menjadi khawatir akan dampaknya.

Sudah menjadi kenyataan, disekitar rumah susun/apartment  yang tidak mengingat dampak lingkungan rakyat disekitarnya menjadi “korban” keserakahan para pengembang yang hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya sehingga penduduk kekurangan air bersih, air limbah yang dibuang tanpa diolah terlebih dulu mencemari sumur disekitarnya, sampah bertebaran karena tidak dikelola dengan benar, penggunaan AC yang berlebihan sehingga suhu udara bebas naik…………….

Aku pernah mengusulkan “kontrak mati” bagi pengembang dan penghuni, yaitu membuat perjanjian  dengan penduduk disekitarnya: pengembang/penyedia rumah susun dan penghuninya yang menyatakan:

1. Jika ternyata melanggar “perjanjian” tertulis dan berlindung dibawah payung hukum,  maka rumah susun/apartmen harus diruntuhkan/dibongkar tanpa ganti rugi.

2.Sebagian dari “keuntungan” pengembang dan penghuni harus disimpan dalam sistem asuransi  atau perbankan, agar saat terjadi “pelanggaran” dapat digunakan untuk “menyelesaikan masalah”.

3. Masyarakat yang terkena dampak pembangunan harus mendapat kompensasi baik berupa materi (sarana umum/pekerjaan) maupun non materi (ketenteraman lahir batin dengan saling menghormati kepentingan masing-masing).

Hal itu berdasar pengalam hidupku yang kutulis dalam Sedikit Tentang Pengalaman Hidupku (STPH) di Akungibnu di WordPress.com ini. Sebagian dapat dibaca di buku Namaku BAPAK MAS YON terbitan dapur buku

Inilah tulisanku yang berjudul Hantu yang sakit hati, kisah perilaku membabibuta makhluk jahat sehingga bertindak merugikan fihak-fihak yang sebenarnya tidak turut terlibat dalam masalah namun berikap masa bodoh atau tidak mau melibatkan diri dalam menyelesaikan suatu masalah dalam suatu lingkungan hidup.

Ringkasnya: Saat pohon beringin  di Alun-alun kidul roboh akibat diterjang puting beliung  penghuninya, para hantu,  sangat marah dan mencari tempat disekitarnya, diantara rumah pusaka peninggalan orang tuaku di Siliran Lor 23.  Tak ada yang sanggup  melawan  hantu yang  dibakar dendam itu kecuali kakak iparku, seorang wanita tegar,  yang selamat dari ulah makhluk jahat itu.

Aku tinggal di komplek Loge Dharma di Jln Jendral Sudirman 34 Yogyakarta.

Kami tinggal di garage menghadap halaman  Loge Dharma. Sepasang gedung  megah terletak ditepi jalan raya Jendral Suderman, mengapit jalan masuk ke halaman Loge Darma.

Complek Loge Dharma terkenal angker, kata orang disekitarnya, banyak hantunya. Anak-anak/pemuda Gondolayu Kidul, perkampungan yang padat penduduk, sering main Jaelangkung sehingga menambah seram suasana.

Gedung besar dan garage yang kami tempati hanya berlangganan listrik PLN dengan  tegangan 110 vol dan daya 100 watt. Saat malam tegangannya turun hingga 70 volt.

Kondisi ekonomi kami, sepulang dari Makassar,  sangat payah sehingga aku selalu berfikir bagaimana mencukupinya, gaji yang hanya cukup untuk hidup satu minggu.

Aku berusaha memanfaatkan hunian kami yang angker namun letaknya sangat strategis untuk membuka usaha.

Dengan bekal mesin tulis  milik mas Man, kakak sulungku  mantan wartawan/pemilik usaha surat kabar Sinar Asia, aku membuka Pengetikan Kilat. Usaha ini cukup berhasil sehingga aku dapat membeli mesin tulis baru, lampu petromax agar dapat bekerja lembur.

Tak ada saingan pengetikan skripsi kilat, sebab aku berpengalaman sebagai redaksi, mantan guru dan kuliah di UGM, sehingga usahaku laris manis. Karena kewalahan kucari tenaga pembantu mengetik, ternyata langkahku ini menimbulkan masalah besar, banyak yang komplain akibat banyak kesalahan, sehingga aku harus mengetik ulang.

Usaha pengetikan kilat kututup dan ganti usaha afdruk kilat,  yang dapat ditunggu. Adik-ipar dan teman-temannya membantu usaha ini dan ikut tinggal bersama kami di garage yang sempit itu.

Keadaan kompleks Loge Dharma menjadi tidak seseram saat digunakan bermain Jaelangkung, mengundang setan gentayangan, kini lingkungan itu berubah menjadi tempat bekerja anak-anak muda yang diwarnai keceriaan dan  gelak tawa.

Saat tugas selesai semua beristirahat sehingga suasana menjadi sepi dan mencengkam, lebih-lebih setelah lampu petromax dimatikan.

Suatu malam aku duduk diteras garage. Lampu petromax sudah dimatikan, diganti dengan lampu listrik yang nyalanya  suram dan bagaikan segan hidup, hingga sering padam. Beruntung setiap kali ada cahaya terang dari langit, walau hanya sesaat, sehingga  dapat kumanfaatkan untuk “mengamati” halaman loge Dharma yang terhampar didepan garage tempat tinggal kami.

Dihalaman terdapat tujuh pohon cemara menjulang ke langit memagari komplek Loge Dharma. Sebatang pohon Munggur besar berdiri  angkuh bagaikan raksaksa disebelah timur jalan, yang satu lagi telah, disebelah barat jalan sudah ditebang.

Segerombol kunang-kunang berkerumun disekitar tonggak Munggur. Ku-amati titik-titik yang berpendar memancarkan cahaya bagaikan layar sebuah TV. Semakin kuamati, semakin mirip benda yang saat itu masih langka…………..sebuah pesawat TV berlayar lebar.

Lamunanku terusik ketika datang seorang bersepeda ontel  masuk kehalaman melewati kerumunan kunang-kunang sehingga binatang itu berhamburan.

“Tumben, mas Yon tidak  di kamar gelap,” tegur Lilih,  adik iparku.

“Sudah dikerjakan Urip dan teman-temannya.”

“Jadi tidak perlu kubantu?”

“Bantu aku memecahkan misteri! Kau kan mempelajari ilmu kanuragan.  Usaha kita maju pesat, tetapi aku bermimpi jalan masuk ke halaman Loge Dharma ini ditutup. Bagaimana mengatasinya?”

“Yang menutup siapa?”

“Kau lihat tonggak pohon Munggur itu? Setiap malam tonggak itu dikerumuni cahaya. Didepannya berkerumun bayangan-bayangan hitam mirip orang sedang nonton TV.

“Ah, itu hanya kunang-kunang dan orang-orang  semedi.”

“Mengapa kunang-kunang itu  mengerumuni pokok pohon yang telah lapuk? Mengapa mereka tidak bersemedi di dalam Loge Dharma? Itulah yang mengganggu fikiranku, sebab mereka menghalangi orang yang akan melewatinya.

“Jika demikian kita bongkar saja sampai ke akar-akarnya.”

Hari semakin larut, aku masuk rumah dan menghempaskan diri ke ranjang.

Kudengar diluar terjadi perdebatan dua lelaki.

“Akan kucabut tonggak jahanam ini” suara Lilih.

“Jangan mas, nanti penghuninya marah!” Urip memperingatkan.

“Kalau kita biarkan akarnya yang melintang dijalan akan menutup jalan masuk ke halaman kita.”

“Tetapi penghuninya akan marah, mereka lebih dahalu menetap ditempat ini, jangan diganggu!”

“Tuh lihat, akar-akarnya mulai tumbuh. ”

“Beri saja sesaji,mereka tidak akan  mengganggu kita.”

Tiba-tiba  kilat menyambar pohon  cemara,  apinya merambat ke Munggur yang masih tegak, suara guntur menggelegar menyertai pembakaran pepohonan.  Tunas yang menghalangi jalan masuk ke halama ikut terbakar.

Terdengar suara Lilih dengan geram:

“Kalian jangan coba menghalangiku. Semua harus pergi dari tempat ini,  disini akan kami bangun gedung  yang bermanfaat untuk kepentingan manusia.”

“Kami telah lama membangun kerajaan siluman ditempat ini, kedatanganmu  mengusik ketenteraman kami. Pergi sebelum kami marah.”

“Kalian, makluk lemah yang tak tahu diri, menghambat kemajuan manusia.”

Aku terperangah menyaksikan kehebatan Lilih , dia   menyusup diantara gerombolan  bayangan hitam,  lalu  menyiramkan  bensin sehingga terjilat oleh api didekatnya, berkobarlah  “api neraka”.

Aku sangat khawatir akan keselamatan Lilih, tetapi aku segera teringat dia yang memporak prandakan siluman itu  kini sedang menjalankan tugas wajib militer, ikut membebaskan Irian Barat, mengoperasikan sebuah kapal perusak.

Jadi: aku terbangun dari mimpi yang satu memasuki mimpi yang lain.

Pagi hari aku bangun membuka pintu garage, kulihat tujuh batang cemara masih tegak di tempatnya, demikian halnya pohon Munggur. Yang mengherankan pokok yang lapuk itu tak ada lagi ditempatnya. Kuingat-ingat…………….. pokok itu memang tidak ada dalam kenyataan, hanya ada dalam mimpiku.

Aku terbangun dari “mimpi” yang mengerikan itu dan semakin membuat fikiranku kacau, namun dalam kenyataan usahaku justru maju pesat.

Mula-mula aku hanya menerima afdruk, kemudian dapat membesarkan dan mengecilkan foto, menerima reproduksi dan perbaikan foto/gambar  lama, menerima foto panggilan, memperbaika peralatan foto dan memberikan kursus fotografi.

Aku membeli generator set  Honda 1.5 kva, peralatan studio, menyewakan peralatan foto grafi……………… sehingga usahaku dikenal sebagai Foto Karya Serba Guna (Kabana) Kilat.

Aku hampir tidak peduli lagi pada mimpi buruk-ku, sampai suatu malam mertuaku mengajakku masuk ke Gedung Utama Loge Darma, tempat ibadah dan pertemua Warga Theosofi yang terkesan sangat seram. Ruangan yang sangat luas itu hanya diterangi lampu 25 watt dengan tegangan sangat rendah.

Aku diberitahu bahwa PPTI dilarang oleh pemerintah dan seluruh kekayaannya  disita oleh negara dan dibawah pengawasan Kejaksaan Tinggi .

Aku diminta untuk membangun rumah pribadi di Mesan sebab ada kemungkinan kami diusir dari garage Loge Dharma.

Aku memiliki rumah warisan di Siliran Lor 29, jadi tempat tinggal telah tersedia, yang kami butuhkan adalah tempat usaha. Baik Mesan atau Siliran kurang strategis.

Rumah Siliran kondisinya tidak jauh berbeda dengan Jendral Sudirman, terkesan sangat seram, daya listrik PLN juga hanya 100 watt/110 volt, tegangannya juga sangat rendah. Belakangan terjadi “misteri” di  rumah Siliran 29, yang menjadikan rumah  pusaka itu angker. Kata prof Imam Sutiknyo rumah itu dihuni oleh hantu pindahan dari ringin kurung Alun-alun kidul yang roboh. Hantu itu akan menumpas semua penghuni rumah itu karena dendam akibat terusir dari Alum-alun Kidul.

Kami  membangun rumah di Mesan. Tanah  hasil jerih payah kami, seluas 150 m^2, terletak dibelakang tanah milik mertua sehingga untuk mendorong kami, tanah itu ditukar dengan yang ada ditepi jalan kecil Mesan.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s