Berebut warisan HANTU

Fragmen STPH.

Pohon cemara  yang tumbuh  mengelilingi komplek bekas Loge Dharma  ditebang habis:
1.Setengah dari halaman bekas Loge Dharma dibangun gedung baru milik Yayasan Dharma Rennaring Putra untuk digunakan sebagai sarana pendidikan anak luar biasa, tuna grahita.
2. Gedung induk digunakan sebagai Kator Perwatin dan Kantor/ruang guru  SLB Dharma Rennaring Putra.
3.Sekolah Taman Kanak Seroja  milik Fakultas Pendidikan UGM  menempati ruang bekas Perpustakaan Perhimpunan Theosofi Indonesia di jln Jendral Sudirman Yogyakarta..
4. Ruangan Induk Loge Dharma pada sore dan malam hari digunakan berbagai keperluan sosial/kemasyarakatan , tempat beribadah umat Budha dan Kristen, saresehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tempat kegiatan spiritual warga Perwatin.
5. Dua gedung di pinggir jalan raya Jendral Sudirman  ditempati oleh Sekretaris Perwatin, Ibu Sarjono, dan Pejabat Tinggi Kepolisian Yogyakarta.
6. Pak Sastro, pensiunan Bengkel Damri, tetap menempati bangunan  darurat peninggalan Damri yang menempel diutara garage tempat kami tinggal, memanfaatkan halaman didepannya sebagai bengkel kendaraan roda ampat.
7. SLB membuat portal yang menutup jalan memasuki halaman bekas Loge Dharma dan memberi pagar  bambu untuk pemisahkan bagian belakang  komplek bekas Loge Dharma dengan kampung Gondolayu Kidul , sehingga penduduk tidak dapat melintas lewat halaman SLB menuju jalan raya.
8. Aky membuat pagar  tembok setinggi 1,25 m dimuka garage untuk memisahkan wilayah kami dengan halaman yang digunakan oleh SLB.
9. Disebelah barat gedung induk terdapat kebun yang tersambung dengan halaman belakang gedung induk kubuat pagar tembuk setinggi 2,5 m untuk memisahkan diri dari wilayah yang dimanfaatkan oleh sekolah SLB, kumanfaatkan untuk kebun jemuran, kamar mandi, wc,  dan dapur.

Perebutan wilayah di bekas Kompleks Logde Dharma terjadi akibat konfliks  Pengurus Perwatin yang didirikan sebagai kelanjutan dari TPI di Yogyakarta. masing-masing  kelompok merasa paling berjaza  dalam mengembalikan kompleks PTI dari Damri, sedangkan Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia disibukkan oleh aktivitas pendidikan masing-masing.

Tidak lebih dari umur jagung pagar bambu yang menghalangi penduduk melewati halaman  dan jalan menuju ke Jalan  Raya Jendral Sudirman dicabuti secara bergerilya. Portal yang menghalangi kendaraan bebas  memasuki “wilayah” SLB di lumatkan oleh truk siluman.

Suatu saat PLN mengganti tegangan 110 volt menjadi 220 dan memberi kesempatan kepada pelanggan lama untuk menambah daya secara cuma-cuma.

Kesempatan ini akan  ku-gunakan untuk menambah daya pada Gedung induk menjadi 900 VA, namun memerlukan izin dari pemilik gedung. Bu Rayasti dan Bu Sarjono yang menguasi Cap Perwatin sebagai “pewaris bekas kompleks Loge Dharwa”  tidak memberi izin, bahkan tetap mempertahankan berlangganan 100 VA.

SLB juga berniat memasang instalasi baru , agar memperoleh sambungan PLN, namun tidak dapat memperoleh jatah akibat tak mendapatkan izin dari “pemilik lokasi” pendirian bangunan.

Pak Soemantri Citrapati menempati kamar di gedung induk sehingga daya yang hanya 100 wat/220 volt sebagian digunakan aktifitas di gedung induk.

Kuhidupkan generator dimalam hari  untuk menerangi halaman tempat  usaha, sehingga membuat kebisingan.

Aktifitas dalam Gedung induk terganggu sehingga pak Mantri meminta untuk mematikan generator.

“Saya minta jangan mengganggu orang beribadah,” tegur pak Sumantri Citrapati yang diserahi mengelola gedung induk.

“Bapak telah memaksa saya untuk menghidupkan generator, sebab daya yang sangat terbatas anda gunakan.”

“Lho, selama kami pakai hidupkan saja petromaks.”

“Seandainya saya pinjamkan petromak pada bapak dan listrik saya gunakan, bapak setuju?”

“Wah, lebih praktis menggunakan listrik dari petromaks.”

“Itulah sebabnya saya ingin memasang listrik di garage. Seandainya bapak bersedia membantu saya, maka hasilnya akan kita nikmati bersama.”

“Apa yang dapat saya lakukan?”

“Saya memerlukan izin dari Perwatin.”

“Izin untuk apa?”

“Memasan instalasi baru di garage lalu mengajukan permohonan ke PLN.”

“Katanya wilayah ini sudah over load.”

“Ya, sebelum diganti dengan tegangan 220”

“Mas  Ibnu sendiri yang menanggung biayanya?”

“Tentu saja.”

“Seandainya pak Ibnu harus meninggalkan tempat ini, pak Ibnu tidak akan minta ganti rugi?”

“Saya tak merasa rugi kehilangan uang untuk membuat wilayah ini menjadi kondusif, tidak dipenuhi oleh hantu gentayangan memperebutkan warisan nenek moyangnya.  Saya yakin Tuhan akan memberikan tempat yang lebih baik seandainya saya harus meninggalkan tempat yang penuh  intrik ini.”

Tanpa kuduga dengan bantuan pak Soemantri Citrapati aku berhasil memperoleh sambungan PLN di garage yang kami huni.

Aku memperoleh jatah 1300 VA sehingga tidak memerlukan lagi menghidupkan generator dan petromaks, kecuali saat ada gangguan listrik PLN.

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s