Vivere pericoloso

Pertanyaan: Menurut cucu Jokowi telah memilih: Vivere pericoloso, salah satu semboyan bung Karno dalam mengembangkan revolusi melawan angkara murka “oldefo”, bukan memilih nasehat mbah Somo atau Mario Teguh.

Bagaimana pendapat akungibnu?

Jawaban: wah cucu ternyata anak muda yang mengikuti Jasmerah, wasiat bung Karno.  “Jasmerah!” kependekan dari Jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Mbah Somo, sebagai rakyat yang kritis punya harapan :   “Jasmerah.”  yang maknanya mengharapkan jangan sekali-kali memalsukan/memanipulasi sejarah, sebab akan tidak lagi dipercaya oleh generasi berikutnya.

Coba saja: mana yang benar, sejarah versi orde lama, versi orde baru atau versi zaman reformasi?  Sejarah versi KMP mungkin saja berbeda dengan versi KIH. Sejarah versi koruptor akan berbeda dengan versi pemberatasan korupsi. Setuju?

He,he, sekarang ini jaman  ”  tandingan”, ada DPR taqndingan, ada kabinet tandingan, ada gubernur tandingan, jadi cucu tak salah mencarikan  tandingan nasehat mbah Somo: The way to be gold or to be garbage, yaitu  vivere pericoloso.

Silakan saja bandingka!

Vivere pericoloso

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Vivere pericoloso, adalah sebuah ungkapan yang memakai dua kata dari bahasa Italia, vivere (“hidup”) dan pericoloso(“berbahaya”). Jadi maksudnya adalah, “hidup secara berbahaya”. Namun dalam bahasa Italia yang benar seharusnya itu vivere pericolosamente.

Di Indonesia, ungkapan ini dipopulerkan oleh Bung Karno pada tahun 1964 sebagai judul pidato kenegaraan pada peringatan HUT ke-19 RI Tahun Vivere Pericoloso (disingkat TAVIP), kira-kira setahun sebelum terjadinya peristiwa G 30 S (Gestapu).

Ungkapan ini juga dipakai oleh surat kabar Sinar Harapan untuk rubrik pojok kritiknya.

Judul pidato Soekarno itu menginspirasi Christopher Koch, penulis Australia, untuk menulis novel yang terbit pada tahun 1978 di Australia, The Year of Living Dangerously, yang kemudian dijadikan film berjudul sama. Film produksi Australia buatan tahun 1982 ini dibintangi oleh artis-artis terkenal seperti Mel Gibson, Sigourney Weaver, dan Linda Hunt. Kisahnya dilatarbelakangi keadaan di Jakarta pada tahun 1965 menjelang dan saat terjadinya peristiwa G 30 S/PKI.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s