Mengapa Tuhan YME menciptakan Macrocosmos dan Microcosmos?

Pertanyaan: Saya mengikuti tulisan pak de Ibnu Somowiyono sejak pak de menulis di Multiplay yang kemudian di teruskan di WordPress . Saya telah mendapatkan izin dari pak de Ibnu untuk “mengoleksi” tulisan pak de.

Semakin lama tulisan pak de Ibnu semakin “menggelitik”, sehingga jika diperkenankan saya juluki pak de Ibnu sebagai pemikir abad ke 21, sebab paling tidak memberikan nuansa baru bagi “peradaban manusia” yang  semakin lama  semakin memadati bumi yang teramat kecil sehingga di “khawatirkan”   bumi akan segera “kiamat”.

Saya ingin bertanya sekaligus lebih meyakinkan diri saya bahwa pak de memang pantas dijuluki pemikir abad ke 21.

Pak de Ibnu telah menginformasikan perihal  macrocosmos dan microcosmos ( versi Teori Minimalis ) yang kini berhamburan di internet. Saat saya mencari lewat Wikipedia ternyata penjelasannya berbeda  dengan versi TM, sehingga “membingungkan”. Kedua kata itu menurut saya  “didefinisikan” oleh pak de Ibnu secara ilmiah (dapat diterima oleh akal), sayangnya di kaitkan dengan kata Tuhan YME sehingga terkesan sebagai tidak ilmiah.

Pertanyaan saya: Mengapa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan Macrocosmos dan Microcosmos?

Menurut saya yang memberikan informasi itu pak de Ibnu, sehingga tidak sepantasnya mengaitkan  istilah macrocosmos dan microcormos  yang ilmiah dengan Tuhan YME.

Terima kasih!

Jawaban: Jangan  mencampur adukkan a. Agama Langit, b Science, c. SS dan d. TM, sebab akan menjadi rancu/kacau.

Cobalah kritisi penjelasan pak de ini:

a. Agama Langit  berdasar iman  merupakan  penguatan dogma oleh batin  “(<<)’

b.Science berdasar  penguatan akal  oleh  pancaindera/ peralatan fisika ‘(>=)’ 

c. SS  berdasar keseimbangan akal dengan  dogma ‘(><)“.

d.  TM berdasar keseimbangan akal dengan batin  ‘(><)’.

Adalah hak setiap orang (termasuk kemenakan) untuk memberi “julukan” apa saja kepada pak de, namun pak de merasa bukan ahli fikir (“>)  yang  hasil karyanya  universal, melainkan  “tukang kotak-katik” dengan memanfaatkan kemampuan  akal yang individual dan batin yang juga individual ‘(><)’.

Tuhan YME itu bukan dogma, melainkan hasil akal budi manusia (the founding father bangsa Indonesia) untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk, lalu pak de kotak-katik dalam Teori Som Wyn untuk membuat orang atheis yang “alergi” kepada Tuhan versi RS yang dipandang membelenggu kebebasan berkeyakinan, berfikir apalagi berbuat.

Teori Som Wyn menginformasikan bahwa

a. Tuhan YME  yang menyediakan segalanya, yang diinginkan dan yang diinginkan oleh  ciptaan Nya (termasuk  manusia )

b. Tuhan YMK yang menciptakan Alam Semesta yang fana  (termasuk dunia)  yang tidak abadi dan menjanjikan kehidupan yang jauh lebih baik di Alam Baka yang abadi bagi yang patuh kepada Nya dan akan memberi sangsi bagi yang ingkar.

c. tuhan (kata benda): yang memberikan apa yang diinginkan oleh yang mempertuhan dan menghindsarkan dari yang tidak diinginkan oleh yang mempertuhan.

Yang harus cucu fahami kotak-katik pak de bukan atas dasar  jumlah objeknya (Tuhan) melainkan berdasar subjeknya (ciptaan atau yang disediakan,  termasuk manusia ) yang yang beraneka ragam ujutnya, perilakunya, budayanya,  akal budinya, imannya,  dan sudut pandangnya agar “menyatu”.

Kata Esa atau satu bukan dilihat dari jumlah Tuhan yang jelas tak mungkin dihitung, melainkan tujuan “pemberian nama diri”  agar Dia menjadikan yang serba berbeda  menjadi manunggal,  hal ini di sarikan dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. 

Pak de mengkotak-katik Alam Semesta berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa yang  merupakan sila ke satu Pancasila,  hasil akal budi manusia, jadi tidak “menyalahi” akal budi, sebab Dia adalah hasil akal budi manusia.  Akan berbeda jika pak de menggunakan istilah Tuhan  atau Tuhan Yang Maha Kuasa yang menurut cucu (bukan menurut pak de) tidak ilmiah, sebab terkesan dogma.

Saya kutip pernyataan kemenakan:  Kedua kata itu menurut saya  “didefinisikan” oleh pak de Ibnu secara ilmiah (dapat diterima oleh akal), sayangnya di kaitkan dengan kata Tuhan YME sehingga terkesan sebagai tidak ilmiah.

Pernyataan kemenakan itu rancu, seandainya kata Tuhan YME hanya kesalahan menulis, yang seharusnya ditulis Tuhan YMK, persoalannya sudah menjadi jelas.

Sekarang akan pak de jelaskan: Mengapa Tuhan YME menciptakan Macrocosmos dan microcosmoa versi Teori Minimalia?

Jawabnya: Karena pak de penggagas Teori Minimalis yang setiap saat berkembang sesuai dengan kebutuhan.

Teori Minimalis berdasar akal budi ‘(><)’  adalah pendukung SS  berdasar keseimbangan akal dengan dogma), ‘(><)”

SS meyakini adanya macrocosmos dan microcosmos, berbeda dengan MS   ‘(>=)’ yang tidak membedakan antara benda yang tersusun oleh materi/partikel  dengan makhluk hidup yang berupa body yang dikendalikan oleh soul.

SS agak berbeda dalam memahami  macrocosmos dan microcosmos dengan TM, sebagai contoh SS menganggap hanya manusia yang dianggap sebagai microcosmos, sebaliknya TM lewat Teori Som Wyn menginformasikan adanya tujuh lapis microcosmos.

Ternyata menurut kemenakan macrocosmos dan microcosmos versi TM lebih ilmiah dibanding dengan versi lainnya.  Terima kasih atas pendapat kemenakan yang kebetulan mathuk dengan kotak katik pak de. Namun kemenakan jangan lupa TM masih harus diuji kebenarannya. Siapa yang menguji? Sang Waktu!

Pak de  Ibnu berterima kasih kepada siapa saja yang akan menguji kebenaran gagasan pak de dan mengembangkannya sepanjang tidak menyimpang dari tujuan utamanya: Mengagungkan Tuhan YME dengan tidak menjadikan Nya  pengekang/pembelenggu  kebebasan berkeyakinan, berfikir dan berbuat sepanjang berani menanggung risikonya. 

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengapa Tuhan YME menciptakan Macrocosmos dan Microcosmos?

  1. Akung Ibnu berkata:

    Tuhan YME, hasil akal budi manusia menciptakan dan menyediakan segalanya yang diinginkan dan yang tidak diinginkan oleh manusia. MS tidak menginginkan adanya microcosmos versi TM sebab berarti mengakui adanya living body yang dikendalikan oleh soul disamping benda yang dapat “dijadikan hidup” tanpa soul, misalnya robot dan hasil tekhnologi materi lainnya.
    Apakah manusia puas dengan “menghidupkan” benda berdasar tehnologi materi, pada hal manusia sebenarnya sanggup membuat organisme tiruan berdasar rekayasa genetika , sehingga dapat “menghidupkan” spesies yang telah punah.
    Hal itu hanya dimungkinkan jika manusia mempelajari microcosmos versi Teori Som Wyn yang menyatakan adanya tujuh lapis microcosmos, diantaranya adalah living organisme dan living astral body. Teori Paralogika membedakan antara Whiteblank Body yang sepenuhnya patuh pada Tuhan karena dikendalikan oleh soul dan Reincarnated Body yang “mandiri” karena dikendalikan oleh spirit.
    Spirit terdapat diseluruh Alam Semesta dan berusaha memperoleh organisme baru untuk dikembangkan dan dikendalikan untuk menjadi living organisme dewasa.
    Menurut TSW: dimana terdapat biosfera, secara alami dapat terbentuk organisme, bahkan dengan belajar dari proses alami manusia sanggup membuat organisme tiruan.
    Spirit berbeda dengan soul yang sepenuhnya patuh pada Tuhan YMK sehingga tak akan mau memanfaatkan organisme tiruan, sebaliknya spirit bersifat mandiri karena diberi kesadaran lewat macrocosmos untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungannya.
    Berdasar akal budi (bukan dogma) , jika manusia sanggup membuat organisme tiruan yang sesuai dengan keingininan spirit, maka spirit akan memanfaatkannya.
    Fenomena living organisme tiruan ini akan mendapat tentangan keras dari RS karena dianggap melampauai wewenang Tuhan, namun akan mendapat dukungan dari SS.
    Nah yang menjadi pertanyaan adalah Quo Vadis MS? Akan menentang atau menerima konsep
    microcosmos versi TM?

  2. Akung Ibnu berkata:

    Menurut prediksi Akungibnu, MS akan berkembang menjadi Spirit Science (SpSc) sedangkan RS akan berkembang menjadi Religious Science (ReSc), namun bukan berarti MS dan RS tidak ada lagi. Peradaban Manusia semakin kompleks karena spirit manusia bukan melakukan evolusi sebagai fisiknya melaikan revolusi. Tubuh manusia secara biologis memang hanya mengalami evolusi secara alami, namun karena spiritnya mengalami revolusi maka mungkin sekali manusia sanggup merevolusi dunia dan lingkungannya bahkan termasuk fisik dirinya dengan rekayasa genetik dan tekknologi. Mengapa? Spirit dapat berasal dari mana saja, sebab spirit manusia (bedakan dengan ruh manusia) memiliki unsur energi transenden yang tidak memungkinkan keluar Alam Semesta sehingga hanya berkutat di Alam Semesta namun memiliki keinginan untuk melakukan reincarnasi, atau siklis kehidupan demi peningkatan preradabannya. Ruh tidak melakukan siklis kehidupan dan sabar menanti peradilan akhir zaman untuk kembali ke surga. Jiwa akan ikut terdaur ulang bersama raga. Jadi satu-satunya yang memungkinkan manusia sanggup bermigrasi ke seluruh Alam Semesta betapapun jaraknya sangat jauh hanyalah spirit. MS yang menganggap manusia sekedar proses biologi tidak mungkin melakukan migrasi ke bagian Alam Semesta yang sangat jauh karena memiliki massa, sedangkan RS (khususnya Agama Langit) tidak berminat untuk melakukan reincarnasi. karena sabar menanti hingga akhir zaman untuk memperoleh kehidupan abadi di surga, kecuali: jika RS berkembang menjadi ReSc sedangkan MS akan berkembang menjadi SpSc.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s