Analisa Psychominimalis.

Pertanyaan: Mohon dijelaskan Teori Psychominimalis secara ilmiah.

Jawaban: Pak de  akan menjelaskan Psychominimalis (bukan Teori Psychominimalis) berdasar akal budi,  bukan hanya sekedar ilmiah  yang hanya dapat diterima oleh akal/nalar melainkan juga dapat diterima oleh budi/batin/hati nurani.

Psychominimlis bukan sekedar teori melainkan sebuah filosofi/filsafat, sebab merupakan “sumber ilmu pengetahuan”  berdasarkan Teori Minimalis.

Setiap ilmu pengetahuan dilandasi oleh filosofi kemudian dibuat teorinya baru dibuktikan kebenarannya agar dapat dimanfaatkan atau  sebaliknya kebenarannya tak usah dibuktikan jika ternyata bermanfaat.

Psychominimalis dapat melahirkan Teori Psychominimalis yang akan berkembang menjadi ilmu pengetahuan berdasar Teori Minimalis dan derevatifnya jika  ternyata dapat dibuktikan kebenarannya atau sebaliknya tak perlu dibuktikan jika ternyata bermanfaat bagi peradaban manusia karena dapat diterima lewat akal budi bukan hanya akal saja sehingga hanya ilmiah namun menisbikan batin/hati nurani  atau dogma saja yang diterima walau tidak masuk akal.

Sebelum mempelajari Psychominimalis terlebih dahalu harus dipelajari Sejarah Perkembangan Peradaban Manusia.

Pak de pernah menginformasikan perkembangan peradaban manusia untuk “membuktikan” bahwa manusia bukan keturunan kera melainkan merupakan hasil revolusi microcosmos di bumi dalam tingkat living organisme.

Pada tulisan tsb. pak de membagi peradaban manusia dalam empat tingkatan, yaitu NS, RS, MS dan SS. Keempat tingkatan ini berlangsung secara tumpang tindih, yang satu belum usai telah disusul oleh yang lain.

Psychominimalis menjabarkan  keempat tingkat tersebut dapat menjadi  lebih rinci dan sistematis.

Untuk keperluan tsb Psm.  memperkenalkan notasi-notasi untuk “meringkas” uraian secara tertulis atau lisan  lewat bahasa.

Psychominimalis memanfaatkan tanda-tanda dan operator matematika, misalnya #,=,<,>,”, ‘, +, *,),(  dan sebagainya. Notasi tsb dapat disusun menjadi sebuah “formula”,  yang dapat dimanfaatkan untuk  “mewakili”  macrocosmos maupun microcosmos lewat sarana metafisika (kemampuan berfikir dan menalar), bukan lewat sarana  bahasa (kemampuan mengindera ), sehingga notasi dan operator matematik yang digunakan  harus dapat dipertanggung jawabkan, diantaranya asal usul dan kaitan satu dengan yang lain

Untuk mempelajari psychominimalis terlebih dahalu harus mempelajari Teori Minimalis dan turunannya. Agar seseorang dapat memanfaatkan Teori Minimalis terlebih dulu harus dapat memanfaatkan akal-budi, bukan fikiran dan dogma.

Pak de pernah membandingkan antara TM  sebagai penunjang RS dengan Science sebagai tulang punggung MS.

Science pertujuan untuk “mempermudah” hidup hingga manusia dapat mempertoleh kenikmatan duniawi, sangat berbeda dengan Agama  (khususnya Agama Langit)  tidak sekedar memperoleh kenikmatan hidup duniawi melaikan juga  untuk memperoleh kebahagiaan abadi.

SS  (dan sebagian Agama Bumi)   juga bertujuan memperoleh kebahagiaan abadi, namun tidak dicapai dalam satu kehidupan.

Science dimulai dari filsafat, berkembang menjadi teori ilmu pengetahuan kemudian diterapkan dalam ilmu pengetahuan.

TM dimulai dari keseimbangan antara kenyataan (E=0)  dengan angan-angan (E#0).

Menurut TM: Hidup ini sebenarnya sangat sederhana (minimalis)  jika kita tidak mencari masalah. Yang menjadikan hidup penuh dengan masalah adalah manusia tidak puas dengan apa yang  disediakan oleh Tuhan YME serta  kesadaran untuk mengurus diri sendiri, jenis dan lingkungan, baik yang berupa macrocosmos  maupun microcosmos, sehingga saling berebut kepentingan.

TM menginformasikan adanya energi dan non energi, jadi harus dibuktikan kebenarannya, namun jika ternyata  TM bermanfaat bagi peradaban manusia, diantaranya sanggup mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing,  maka tidak perlu dibuktikan melainkan digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah (berebut kepentingan)  sebab Alam Semesta ini sangat luas, sehingga tidak usah “diperebutkan”  jika manusia sanggup  memanfaatkannya, sebagai contoh :

a.  masalah  kepadatan dunia dapat diatasi dengan berimigrasi ke galaksi lain yang jaraknya tak mungkin dicapai dengan kendaraan bermassa untk memperoleh tempat baru,

b. mencari asal usul manusia di bumi, khususnya RB.

c. menebus kesalahan manusia karena ikut andil dalam kepunahan spesies tertentu dengan upaya “mengidupkan” kembali tidak hanya lewat  teknologi materi, melaikan dengan rekayasa genetika.

d. membuat matahari tiruan, reaktor nuklir fusi dengan bahan bakar hydrogen tanpa menyebabkan kekurangan air dan karbohidrat.

e. menemukan eter  (E = -x + y dengan E#0, y#0 dan x#0) yang merupakan energi semu yang mendominasi Alam Semesta berdasar FSM dan Peta Energi dan Non Energi Alam Semesta versi TM., bukan energi gaib (E=-x) , energi metafisika E=y)

Spychominimalis berusaha “menjelaskan” kebenaran TM sehingga jauh lebih sulit dibanding sekedar “teori ilmiah” berdasar axioma TM., sebab Psm telah “merambah” kearah filsafat akal budi.

Science dimulai dari Filsafat, kemudian teori  lalu dikemas dalam ilmu pengetahuan materialistik.

TM dimulai dari kenyataan hidup yang  terbatas oleh ruang dan waktu dengan angan-angan yang seharusnya minimalis , menjadi Teori yang memenuhi  standard ilmu pengetahuan harus dibuktikan kebenaran, namun jika ternyata  TM diterima oleh akal budi, bukan sekedar axioma apalagi dogma, maka tidak ada keharusan untuk membuktikan secara eksperimen. Mengapa: Filoso/filsafat akal budi menjadikan manusia terbebas dari belenggu materialisme maupun dogma.

Psychominimalis bertujuan menganalisa TM dan Turunannya, sehingga jauh lebih sulit dibanding sekedar teori  atau kenyataan dan angan-angan.

Ini pak de kutibkan tulisan yang beruhungan dengan filsafat yang menjadi dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan sehingga peradaban manusia berbeda dengan living organisme lainnya (misalnya kera).

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Filosofi

Philbar.png

Portal

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusiasecara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.[1] Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

§Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.

Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”.

§Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Plato (sebelah kiri) dan Aristotle(kanan), menurut lukisan Raffaelo Sanzio pada tahun 1509.

Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun.

Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama.

Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat barat, filsafat timur, dan filsafatTimur Tengah. Sementara, menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.

§Filsafat Barat[sunting | sunting sumber]

Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi filsafat orang Yunani kuno.

Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes,Immanuel Kant, Georg Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.

Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu.

§Metafisika[sunting | sunting sumber]

Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan (eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam semesta dibahas dalam Kosmologi. Dalam metafisika sendiri ada berbagai perbedaan teori-teori filsafat. Idealisme, misalnya, adalah keyakinan bahwa realitas yang dibangun mental atau material sementara realisme menyatakan bahwa realitas, atau setidaknya beberapa bagian dari itu, ada secara independen dari pikiran. Idealisme subyektif menggambarkan objek sebagai tidak lebih dari koleksi atau “bundel” dari data yang masuk dalam perseptor. Filsuf abad ke-18 George Berkeley berpendapat bahwa keberadaan secara mendasar terkait dengan persepsi dengan kalimat Esse est aut percipi aut percipere atau “Untuk menjadi yang dirasakan atau melihat”.[2]

Selain pandangan tersebut, ada juga dikotomi ontologis dalam metafisika antara konsep khusus dan universal. Khusus adalah benda-benda yang dikatakan ada dalam ruang dan waktu, sebagai lawan dari benda-benda abstrak, seperti nomor. Universal adalah sifat yang dimiliki oleh beberapa hal khusus, seperti kemerahan atau gender. Jenis eksistensi, jika ada, universal dan benda-benda abstrak adalah masalah perdebatan serius dalam filsafat metafisik. Realisme adalah posisi filosofis universal yang pada kenyataannya memang ada, sementara nominalisme adalah negasi, atau penolakan universal, benda abstrak, atau keduanya. Konseptualisasi menyatakan bahwa universal ada, tetapi hanya dalam persepsi pikiran.[3]

§Epistemologi[sunting | sunting sumber]

Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

Skeptisisme adalah posisi yang mempertanyakan kemungkinan yang benar-benar membenarkan kebenaran apapun. Argumen regresi, masalah mendasar dalam epistemologi, terjadi ketika untuk benar-benar membuktikan pernyataan apapun, pembenaran itu sendiri perlu didukung oleh pembenaran lain.

Rasionalisme adalah penekanan pada penalaran sebagai sumber pengetahuan. Empirisme adalah penekanan pada bukti pengamatan melalui pengalaman indrawi atas bukti lain sebagai sumber pengetahuan.

Parmenides (fl. 500 SM) berpendapat bahwa tidak mungkin untuk meragukan dari berpikir yang benar-benar terjadi. Tapi berpikir harus memiliki objek, oleh karena itu sesuatu yang melampaui pemikiran benar-benar ada.

§Aksiologi[sunting | sunting sumber]

Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia yang terdiri dari etika dan estetika.

§Etika[sunting | sunting sumber]

Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Beberapa topik yang dibahas di sini adalah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya.

§Estetika[sunting | sunting sumber]

Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.

§Filsafat Timur[sunting | sunting sumber]

Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Republik Rakyat Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama.

Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Sidharta Budha Gautama/Budha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu,Zhuang Zi, dan Mao Zedong.

§Filsafat Timur Tengah[sunting | sunting sumber]

Filsafat Timur Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan para filsuf yang bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi, yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaanYunani dengan tradisi falsafah mereka.

Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa.

Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah adalah Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Kahlil Gibran, dan Averroes.

§Filsafat Islam[sunting | sunting sumber]

Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam.

Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.

§Filsafat Kristen[sunting | sunting sumber]

Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya.

Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contohnya adalah Santo Thomas Aquinas dan Santo Bonaventura.

§Munculnya filsafat[sunting | sunting sumber]

Filsafat, terutama filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu sepertiBabilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kastapendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

Buku karangan Plato yg terkenal adalah berjudul “etika, republik, apologi, phaedo, dan krito”.

§Sejarah filsafat Barat[sunting | sunting sumber]

Sejarah filsafat Barat bisa dibagi menurut pembagian berikut:

  • Filsafat Klasik
  • Filsafat Abad Pertengahan
  • Filsafat Modern
  • Filsafat Kontemporer

§Klasik[sunting | sunting sumber]

Pra Sokrates

ThalesAnaximanderAnaximenesPythagorasXenophanesParmenidesZenoHerakleitosEmpedoclesDemocritusAnaxagoras

Zaman Keemasan

SokratesPlatoAristoteles

§Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Skolastik

Thomas Aquino

§Modern[sunting | sunting sumber]

MachiavelliGiordano BrunoFrancis BaconRene DescartesBaruch de SpinozaBlaise PascalLeibnizThomas HobbesJohn LockeGeorge BerkeleyDavid HumeWilliam WollastonAnthony CollinsJohn TolandPierre BayleDenis DiderotJean le Rond d’AlembertDe la MettrieCondillacHelvetiusHolbachVoltaireMontesquieuDe NemoursQuesnayTurgotRousseauThomasiusCh WolffReimarusMendelssohnLessingGeorg HegelImmanuel KantFichteSchellingSchopenhauerDe MaistreDe BonaldChateaubriandDe LamennaisDestutt de TracyDe VolneyCabanisDe BiranFourierSaint SimonProudhonA. ComteJS MillSpencerLudwig FeuerbachKarl MarxSoren KierkegaardFriedrich NietzscheEdmund Husserl

§Kontemporer[sunting | sunting sumber]

Jean BaudrillardMichel FoucaultMartin HeideggerKarl PopperBertrand RussellJean-Paul SartreAlbert CamusJurgen HabermasRichard RotryFeyerabendJacques DerridaUmberto EcoMahzab Frankfurt

§Lihat pula[sunting | sunting sumber]

§Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Irmayanti Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. hal. 1
  2. ^ “Idealism”. philosophybasics.com. Diakses 2011-12-20.
  3. ^ Strawson, P. F. “Conceptualism.” Universals, concepts and qualities: new essays on the meaning of predicates. Ashgate Publishing, 2006.

§Pranala luar[sunting | sunting sumber]

</noinclude>
</noinclude>

Menu navigasi

Bahasa lain

Ada baiknya pak de kutipkan filsafat  yang menjadi dasar teori ilmu pengetahuan (bukan hanya pengetahuan materialistik).

FILSAFAT ILMU SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (SAINS)

 

FILSAFAT ILMU SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN

ILMU PENGETAHUAN ALAM (SAINS)

Oleh:

Moh. Arif

IAIN Tulungagung

Email: m­_arif­­_ smnp@yahoo.co.id

\

Abstrak: Mengemukakan bahwa filsafat ilmu tidak terlepas dengan masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang  ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn). Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. memahami filsafat ilmu untuk mengembangkan diri sebagai ilmuwan maupun sebagai pendidik yang dalam melakukan penelitian dapat menggunakan berbagai alternatif metodologi penelitian sesuai dengankonsentrasi bidang studinya dan mampu menerapkan filsafat ilmu sebagai dasar pemikiran, perencanaan dan pengembangan keilmuan-pendidikan yang menghayati nilai-nilai ajaran agama dan nilai-nilai luhur budaya. Sementara itu, yang pendidika sains amerupakan kumpulan fakta, konsep, teori, dan generalisasi yang menjelaskan tentang alam yang harus dikaji melalui tinjauan filsafat ilmu sehingga penemuan dari suatu kebenaran ilmiah mengenai hakikat semesta alamdapat dijelaskan secara logis dan memberikan pemahaman konsep, dan hukum yang bersifat ilmiah didekati melalui suatu proses induksi dari informasi yang didapatkan dari berbagai data. Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat.

Keywords; Filsafat Ilmu, Ilmu Pengetahuan (sains)

Pendahuluan

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987,  Nuchelmans, 1982).

Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.

Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.

Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.

Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F. Bacon  (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.

Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel kant (dalam kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).

Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena  pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa  filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.

Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.

Pengertian Filsafat

Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).

Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya  adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.

Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).

Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).

Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.

Peran Filsafat Ilmu

Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa  filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)  bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.

Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).

Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu.

Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.

Lebih lanjut, memahami filsafat ilmu untuk mengembangkan diri sebagaiilmuwan maupun sebagai pendidik yang dalam melakukan penelitian dapat menggunakan berbagai alternatif metodologi penelitian sesuai dengan konsentrasi bidang studinya. Mampu menerapkan filsafat ilmu sebagai dasar pemikiran, perencanaan dan pengembangan keilmuan-pendidikan yang menghayati nilai-nilai ajaran agama dan nilai-nilai luhur budaya.

Adanya pola berfikir semacam ini akan menumbuhkan sikap ketenangan, keseimbangan pribadi, mengendalikan diri, dan tidak emosional. Sikap dewasa secara filsafat dalam penyelidikan alam adalah sikap menyelidiki secara objektif, kritis, skeptis, terbuka (open minded), toleran, dan selalu bersedia meninjau suatu masalah dari berbagai sudut pandangan. Metode berfikir ilmiah ini merupakan gabungan antara pendekataninduktif-empirik dengan pendekatan deduktif-rasional.

Auguste Comte, meyakini bahwa masyarakat modern semakin aktual dan relevan harus memiliki pemahaman/penguasaan (understanding) basic science, yaitu matematika, kimia, fisika, dan biologi. Sebab, adanya penguasaan dan kemajuan ilmu pengetahuan tersebut, disatu sisi telah memudahkan hidup manusia, namun disisi lain justru telah menimbulkan gejala-gejala adanya kerusakan (catastrophe) yang semakin meningkat dengan akibat-akibat yang fatal.

Oleh karena itu, disinilah pentingnya adanya kebijaksanaan (wisdom). Terkaitdengan itu, arah  hakikat pengunaan ilmu ialah penggunaan yang humanis dan integratifdengan nilai-nilai. Para ilmuwan harus memiliki tanggung jawab dan integritas yang tinggi. Memiliki etik dan moral bahwa ilmu adalah tidak bebas nilai. Etis dalam arti kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya ditujukan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia

Pengertian Penetahuan (Sains)

Ilmu pengetahuan (sains) dapat didefinisikan, yakni pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) (Jujun S. Suriasumantri, 1992). Definisi lain, sains adalah kegiatan intelektual yang berkaitan dengan alam fisik beserta semua fenomenanya dan memerlukan pengamatan (observasi) yang tidak bias serta eksperimentasi yang sistematik.” Sains dipandang sebagai sesuatu yang memiliki disiplin yang ketat, ilmiah, dan objektif.

Sementara itu, yang dimaksud pendidikan sains adalah kumpulan fakta, konsep, teori, dan generalisasi yang menjelaskan tentang alam. Melalui pendidikan sains, penemuan dari suatu kebenaran ilmiah mengenai hakikat semesta alam dijelaskan secara logis untuk memberikan pemahaman konsep. Hukum yang bersifat ilmiah didekati melalui suatu proses induksi dari informasi yang didapatkan dari berbagai data.

Obyek penelitian sains mencakup keseluruhan alam semesta dengan segenap isinya. Sikap ini sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an bahwa dalam setiap melakukan aktivitas, termasuk dalam pencarian ilmu pengetahuan kealaman (sains): ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (Qs. al-‘Alaq [96]: 1). Ayat ini supaya manusia dalam “kegiatan membaca/meneliti” memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman.

Iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam (al-Qashash,1995: 81). Al-Quran juga menyatakan bahwa objek ilmu meliputi batas-batas alam materi (physical world), karena itu dapat dipahami mengapa Al-Quran di samping menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen (QS. [29]: 20), juga menganjurkan untuk menggunakan akal dan intuisi (antara lain, QS [16]:78).

Dengan demikian, sejak semula Allah Swt dalam Al-Quran menyatakan bahwa di balik alam raya ini ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia (antara lain QS 2:164; 51:20-21), dan bahwa tanda-tanda wujud-Nya itu akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia, sebagai bukti kebenaran Al-Quran (QS 41:53).

Memberikan isyarat melalui ayat-ayat-Nya bahwa tafakkur menghasilkan sains, tashkhirmenghasilkan teknologi guna kenyamanan hidup manusia. Simpelnya, tanpa keraguandapat dinyatakan bahwa “Al-Quran” membenarkan –bahkan mewajibkan– usaha-usaha pengembangan ilmu sains dan teknologi, selama ia membawa manfaat untuk manusia serta memberikan kemudahan bagi mereka.

Karakteristik Sains dan Metodologi Kajiannya

Sains merupakan khazanah informasi yang berupa klasifikasi fakta serta pengakuan dan elaborasi makna serta peranannya dalam penataan pengetahuan mengenai perilaku alam yang diatur oleh hukum sebab akibat (kausalitas). Hukum ini merupakan cerminan kekuasaan Allah dalam mengatur perilaku ciptaanNya (al Kaun) secara deterministik untuk yang berukuran makroskopis, tetapi untuk yang berukuran mikroskopis berubah sifatnya menjadi deterministik secara rata-rata mengikuti paradigma mekanika kuantum bagi ciptaan yang bersifat inanimate (benda mati) sehingga tak memiliki kehendak (Nagel, 1982, hal.27-335), agar manusia dapat memanfaatkannya dalam mengemban amanah dari Allah SWT baik sebagai khalifah maupun sebagai hamba Allah setelah mampu mengaktualisasikan apa yang telah di”baca”nya mengenai alam semesta. Tujuan penyelidikan ilmiah saat ini yang melahirkan perkembangan sains adalah memisahkan berbagai faktor yang teramati dalam alam sesuai dengan masalah yang diangkat, dan mengkaji faktor-faktor itu dalam hal kesesuaiannya dengan ramalan yang objektif (hipotesis) dan dapat diulangi, serta dengan fakta-fakta yang telah diterima dan terdokumentasi sebelumnya.

Setiap hukum berasal dari suatu hipotesis atau pernyataan ilmiah yang berlaku umum mengenai korelasi numeratif antara sejumlah besaran yang diselidiki, yang telah absah/tervalidasi yaitu setelah mengalami ujian empiris berulang-ulang dan belum pernah menunjukkan adanya kontradiksi.

Selain hasil-hasil eksperimen, sains memerlukan pula pemanfaatan secara cerdas terhadap pemikiran dan pertimbangan teoritis. Suatu hipotesis tertentu yang biasanya diajukan pra-eksperimen mengenai gejala yang diselidiki berupa suatu dugaan yang memerlukan pengalaman meneliti perumusannya, diikuti deduksi akibat-akibat logis dari hipotesis tersebut dan pengamatan serta analisis yang andal oleh perumusnya. Deduksi ini kemudian diverifikasi dengan hasil-hasil eksperimen yang telah ada dalam pustaka maupun hasil rancangan peneliti sesudah pengujian terlaksana sesuai dengan rencana. Jika terjadi ketidaksesuaian, maka hipotesis tersebut ditinggalkan. Jika terdapat persesuaian, yaitu ramalan fakta eksperimental baru yang terkonfirmasi secara meyakinkan, maka berarti hipotesis diterima. Suatu hipotesis disebut baik, jika ia mampu menghasilkan ramalan-ramalan yang dapat diuji melalui proses yang dikenal sebagai metode ilmiah (metode sains). Kelanjutan eksplorasi sains adalah penyusunan teori kolektif sebagai suatu sintesis sejumlah besar informasi, yang tersusun dari hipotesis-hipotesis yang telah teruji serta terverifikasi dengan baik mengenai suatu aspek dari dunia nyata.

Setiap teori harus dibangun berdasarkan metode sains yang dikenal sebagai metode ilmiah. Metode sains yang dirintis oleh Bacon mulai digunakan secara lengkap oleh Issac Newton, secara mendasar meliputi tiga langkah utama yang menggambarkan tiga unsur terpadu yang membentuk suatu spiral kerucut terbalik mulai dari puncak di bawah sampai ke dasarnya yang terletak terbalik di atas yang menghubungkan tingkat empiris, logika, dan verifikasi rangkaian proses elaborasi ilmiah. Ketiga langkah-langkah tersebut di atas meliputi : pertama, Observasi/pengamatan terhadap gejala alam berupa eksplorasi empiris dalam bentuk eksperimen terancang (designed experiment).

Kedua. Penalaran berbasis logika untuk menjelaskan berbagai hasil eksperimen yang muncul dari langkah (1) sebagai penjelasan atas kegiatan empirik, dan memperluas wilayah keberlakuannya untuk menghasilkan ramalan gejala alam baru yang merupakan kegiatan teoritik. Prosedur elaborasi teoritik ini menggunakan metode induksi dan deduksi yang diterapkan secara terpisah maupun terpadu sebagai suatu rangkaian.

Ketiga. Pengujian ramalan tertentu  yang muncul dari langkah (2). Pengujian hipotesis ini untuk mengetahui sudah sesuai atau belum dengan pengamatan langsung yang dilakukan secara eksperimen (verifikasi secara empirik). Jika belum sesuai, maka perlu dilakukan modifikasi pada hipotesis beserta analisisnya. Suatu pengamatan verifikatif yang berhasil/sesuai kadang kala berfungsi sebagai pengamatan eksploratif untuk menemukan fakta-fakta baru, sehingga peneliti dapat memulai kegiatan tahapan spiral pengembangan berikutnya (Nagel, op cit., hal. 79-105)

Dewasa ini kajian mengenai sains terbagi menjadi kajian mengenai makhluk hidup (animate) yang meliputi bidang-bidang biologi, pertanian, dan ilmu kesehatan, serta benda-benda mati (unanimate) yang meliputi bidang-bidang fisika, kimia, geologi, astronomi, dan farmasi, serta matematika yang merupakan disiplin ilm tersendiri dan merupakan pendukung dalam aspek logika dan numeratif.

Sains kealaman (natural sciences) yang secara garis besar meliputi fisika dan kimia tidak hanya merupakan bagian dari IPA, namun keduanya adalah sains dasar (basic science) yang bersama-sama dengan matematika sebagai disiplin ilmu yang sifatnya numeratif mendukun ilmu-ilmu lain. Fisika mengkaji hal-hal paling mendasar, yakni mengenai perilaku entitas mendasar di alam yang bermuara pada energi, seperti gerakan, ruang, waktu, gaya, kerja, materi, momentum, daya, suhu, gelombang, bunyi dan cahaya, atom dan inti atom serta sistem zarah dalam atom, yakni inti dan sub-inti. Kimia merupakan kajian mengenai bagaimana materi terhimpun dari penyusunnya, bagaimana atom bergabung membentuk molekul dan molekul bergabung menjadi senyawa dan zat dengan struktur kompleks, baik yang bermanfaat maupun yang merugikan. Selanjutnya objek sains biologi mengkaji hal yang lebih kompleks lagi berupa biomolekul dalam makhluk-makhluk hidup.

Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Pengetahuan Alam

Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil sebuah rantai sebagai perbandingan, menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah mengembangkan pengertian tentang strategi  dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujung lain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis dalam menurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense (pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat.

Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental dan struktural diarahkan pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu pengetahuan alam merupakan bentuk refleksif (relefxion form)dari proses belajar yang ada dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengan kepentingan dalam meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivisme menyamakan rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan alam.

Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yang langsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam keadaan ilmu alam sekarang ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap benda-benda dan gejala-gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang diregistrasi dalam eksperimen adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan” eksperimental kita. Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih teliti terhadap banyak faktor yang dalam pengamatan konkrit selalu terdapat bersama-sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak akan tahu menahu tentang elektron-elektron dan bagian-bagian elementer lainnya.

Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun 1853, Auguste Comte mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996), sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara lebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih cepat. Dalam penggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia diurutkan dalam urutan keempat.

Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan dan ukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tua sejarahnya, secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmu yang dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).

Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapi dalam kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari kelompok ilmu pengetahuan alam.

Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu kimia dapat digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia organik, kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.

Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang ilmu kimia sebagai “… that it relates to the law of the phenomena of composition and decomposition, which result from the molecular and specific mutual action of different subtances, natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungan dengan hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alami maupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak saja melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).

Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam, pada mulanya orang tetap mempertahankan penggunaan nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Hal ini dapat dilihat dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: New Princiles of Chemical Philosophy.

Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraian ini dapat memberikan dasar bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarah perkembangan ilmu alam dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.

Pentingnya filsafat ilmu dalam pendidikan sains dapat dilihat dalam tiga kajian, yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis, dan kajian aksiologis. Dari kajian ontologis,objek yang ada yang akan diteliti ialah yang dapat dijangkau teori melalui pengalaman manusia secara empiris. Dari kajian epistemologis, yaitu pengembangan ilmu dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis untuk memperolehpemahaman dan pengertian (verstehen) serta mencapai kearifan (kebijaksanaan atau wisdom).Kemudian, dari kajian aksiologis ialah pendidikan sains sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab dalam perkembangan intelektual dan pembentukan kepribadian. llmu pendidikan tidak bebas nilai atau memiliki etika.

Pendidikan sains dapat menjadi sarana relevan untuk lebih memelihara dan menghargai alam dalam situasi lingkungan heterogen maupun lingkungan homogen yang berkaitan erat dengan penerapan sains dan teknologi. Dengan demikian, pendidikan sains bukan hanya memahami konsep-konsep ilmiah dan aplikasinya dalam masyarakat, melainkan juga untuk mengembangkan berbagai nilai.

Untuk memahami nilai-nilai sains diperlukan penalaran yang logis dan intuisi yang tajam. Pola pemikiran mulai dari tingkat pemikiran yang sederhana sampai pada tingkat pemikiran yang kompleks, sedangkan melalui intuisi dalam pembentukan kepribadian, maka penghayatan internalisasi nilai-nilai pendidikan sains bisa menjadi budaya hidup.

Etika pengembangan keilmuan alam selalu mengacu kepada kaidah moral, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma yang bersifat utilitaristik(kegunaan). Hati nurani disini adalah penghayatan tentang yang baik dan yang buruk yang dihubungkan dengan periaku manusia. Ilmu pengetahuan diupayakan bagaimana supaya menjadi berkah dan rahmat bagi kehidupan manusia

Dalam masyarakat yang beragama, ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai ketuhanan karena sumber yang hakiki adalah dari Tuhan, semua ilmu datang dari Allah SWT, Sang Maha Pemilik Pengetahuan. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yaitu memahami realitas alam, dan memahami eksistensi Tuhan (Allah Swt) dan memahami hakikat penciptaan manusia sebagai khalifah Allah. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk yang lain, karena manusia diberikan daya berfikir.

Daya fikir inilah yang menjadi sarana utama penemuan teori-teori ilmiah. Dalam pendidikan sains, setiap orang tentunya memiliki persfektif masing-masing mengenai suatu teori, sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan dalam menilai suatu kebenaran teori. Hal ini bukan hal yang perlu diperdebatkan. Meskipun pada hakikatnya, kebenaran suatu teori sangat penting bagi dapat diterimanya oleh semua orang.

Dalam konteks demikian diperlukan suatu pandangan yang komprehensif tentang ilmu dan teori-teori kebenaran. Teori-teori kebenaran yaitu teori kebenaran konsistensi/koherensi, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran pragmatisme dan teori kebenaran religious. Dengan demikian, para ilmuwan dalam menilai suatu ilmu/teori harus memiliki pijakan berbagai teori kebenaran, dan juga yang terpenting mampu menjelaskan atas dasar rasionalitas dan metedologis yang tepat.

Dengan demikian, dengan mempelajari dan memahami berbagai fenomena alam, meliputi keragaman, keteraturan dan segala keindahannya yang menakjubkan dalam alam semesta akan melahirkan pengakuan terhadap keagungan Allah SWT dan merasakan kehadiran Allah SWT tanpa meski memperdebatkan berbagai perbedaan persfektif yang ada.

Semakin luas wawasan seseorang dan semakin dalam seseorang mempelajari IPA(sains), maka semakin kecil ia merasa sebagai makhluk hidup dihadapan sang Khaliq (sang Penciptanya), dan perbedaan/keragaman merupakan karunia dan berkah yang tidak ternilai dari sedikit kekuasaan dan pengetahuan yang Allah SWT berikan pada hamba-hamba-Nya.

Alam semesta dengan segala isinya tak akan pernah habis dipikirkan, dan tidak pernah akan selesai diterangkan. Pengakuan dan perasaan ini pada akhirnya juga akan mendorong manusia untuk lebih bisa menghargai alam. Sir Isaac Newton, seorang fisikawan terkemuka abad ke-17, mengibaratkan dirinya sebagai anak kecil yang sedang bermain kerang di tepi pantai, sedangkan lautan luas yang terbentang di hadapannya ibarat ilmu pengetahuan (sains) yang tak mengenal batas

Demikian pula Einstein, yang semula eteis, karena menekuni sains akhirnya mempercayai adanya Tuhan. Ia menyadari bahwa filsafat, sains, seni, agama, dan sebagainya, masing-masing mendapat tempat dalam kehidupan manusia dan saling terpadu secara holistik. Semuanya bersifat saling membutuhkan dan saling mengisi, seperti yang  dikatakan Einstein, bahwa “sains tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa sains adalah lumpuh”.

Pernyataan ini, selaras dengan Filosofis Padi ”padi semakin berisi, maka akan semakin merunduk”, berarti semakin seseorang memiliki intelektual yang tinggi, maka perilakunya akan semakin rendah hati dan bijaksana. Maksudnya mampu berfikir dan bertindak ilmiah dalam memecahkan persoalan-persoalan hidup, terutama juga dalam interaksi dengan lingkungan alam.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa filsafat ilmu sangatlah tepat dijadikan landasan pengembangan ilmu khususnya ilmu pengetahuan alam  karena kenyataanya, filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan alam.

 Filsafat ilmu memberikan implikasi dan kemanfaatan langsung untuk kehidupan manusia. Dalam membentuk peranan urgensitasnya memiliki latar belakang dan tujuan serta arah yang ingin dicapai. Filsafat ilmu menjadi kerangka bagi manusia dalam memahami alam beserta kekayaan di dalamnya dengan pendekatan berfikir secara ilmiah, rasional dan sistematis.

Filsafat Ilmu adalah cabang dari epistemologi. Epistemologi mempunyai dua cabang, yaitu filsafat pengetahuan (theories of knowledge) dan filsafat ilmu (theory of science). Kajian filsafat ilmu meliputi bontologi, epistemologi, dan aksiologi. Filsafat ilmu menjadi tolak ukur untuk memahami ilmu-ilmu lainnya.

Dalam konteks memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan sains, filsafat ilmu memadukan secara holistik antara ilmu sosial dengan ilmu agama, sehingga penerapan sains memiliki etika saintifik baik berdasarkan tataran rasionalitas maupun metodologisnya.


DAFTAR PUSTAKA

Bahm, Archie, J., 1980., “What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The Science Of Values; 44-49, World Books, Albuquerqe, New Mexico, p.1,11.

Bertens, K., 1987., “Panorama Filsafat Modern”, Gramedia Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.

Jujun S Suriasumantri. Perjalanan Filsafat Ilmu. Republika, Kamis, 20 September 2007Posted on September 22, 2007. www.republika.co.id

Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.

Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.

____________________., 1996., “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte”, Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-26, 40.

____________________., 1999., “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu”, Makalah, Ditjen Dikti Depdikbud – Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, p.1.

Mohammad Noor Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. PT: Usaha Nasional, Surabaya, 1984

Nagel, E. 1982. The Structure of Science, Problems in Logic of Scientific Explanations, paperback edition of the 4th impression, Gresham Press, UK.

Nuchelmans, G., 1982., “Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono”, Fakultas Filsafat – PPPT UGM Yogyakarta p.6-7.

Sastrapratedja, M., 1997., “Beberapa Aspek Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, Makalah, Disampaikan Pada Internship Filsafat Ilmu Pengetahuan, UGM Yogyakarta 2-8 Januari 1997, p.2-3.

Soeparmo, A.H., 1984., “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”,Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11.

The Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu”, Cet. Ke-4, Penerbit Liberty Yogyakarta, p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93, 159, 161.

Van Melsen, A.G.M., 1985., “Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab, Diterjemahkan Oleh K.Bartens”,  Gramedia Jakarta, p.16-17, 25-26.

Van Peursen, C.A., 1985., “Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Diterjemahkan Oleh J.Drost”, Gramedia Jakarta, p.1, 4, 12.

Posted by Moh. Arif at 8:24 PM

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer PostHome

Subscribe to: Post Comments (Atom)

BLOG ARCHIVE

ABOUT ME

Moh. Arif
View my complete profile

Picture Window template. Pow

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s