Tiada tuhan selain Tuhan.

Pertanyaan: Saya membaca tulisan pak de Ibnu di Blog milik Bapak Goenawan Mohamad yang berjudul: ” Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tidak Harus Ada yang menimbulkan “polemik” diantara para pembacanya.

Saya kecewa sebab tulisan pak de menghentikan diskusi yang dibuka oleh pemilik bolog untuk saling beradu argumentasi mengasah akal budi untuk mengimbangi iman. Bukankah pak de menyatakan bahwa iman harus diimbangi oleh akal budi agar dapat menilai budi pekerti seseorang, termasuk yang berbeda imannya?

Menurut GM  ada “pernyataan” Nurcholis Masjid”  yang berbunyi: Tiada tuhan selain Tuhan. Jika itu benar, maka menurut pemikiran saya: Bapak  Nurcholis Masjid sebagai cendekian Muslim sangat meyakini kebenaran  Agama Islam dan ingin menjunjung tinggi agama Islam dengan cara menggantikan kata Allah dengan  kata Tuhan, agar  agama Islam tidak  disalah gunakan oleh kelompok  fundamentalis yang radikal yang justru sangat merugikan agama dan umat Islam.
Mengapa? “ Tiada tuhan selain Allah “ dapat ditafsirkan  oleh orang yang tidak bertanggung jawab sebagiai : agama yang lain, diluar Islam tidak memiliki tuhan. Hal ini dimanfaatkan oleh kaum radikal untuk mengatakan  mereka tidak beragama Islam adalah kafir karena tidak tauhit kepada Allah swt.
Dengan mengganti kata Allah menjadi Tuhan diharapkan tak mengurangi tauhit sekaligus memberi kesempatan kepada agama lain melakukan “sejenis” tauhit , patuh kepada Tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Menurut saya , agama berdasar dogma yang merupakan bangunan sempurna yang tak perlu disempurnakan, sebab sudah sempurna sehingga tak perlu bahkan tak boleh disesuaikan  dengan kebutuhan. Ibaratnya agama dan dogma/kitab suci harus sehidup semati.

Jika dogma diubah-ubah maka akan menjadi sejenis axioma. Sebaliknya axioma yang tak disesuaikan dengan kebutuhan akan menjadi dogma.

Bagaimana pendapat pak de Ibnu?

Jawaban: Agar pembaca dapat memberikan pendapat pada tulisan  ananda XYZ , pak de sajikan  blog yang menjadikan polemik, sehingga pak de ikut melibatkan diri dalam polemik itu, namun tak ada niat  menghentikan polemik tersebut.

Pak de minta maaf kepada bapak Goenaman Mohamad, pemilik blog yang terganggu dengan tulisan pakde, demikian halnya pak de ucapkan terima kasih atas kritik dan saran ananda XYZ

Inilah  salinan isi Blog yang kini terhenti akibat tulisan pak de:

Kutipan ini sekaligus pak de manfaatkan untuk mengoreksi/ menyunting  atau mengupdate tulisan pak de dalam blog itu agar tidak menumbulkan kesalah fahaman.

Pakde juga menyertakan polemik yang terjadi:

Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ

ATHEISME dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.

Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.

Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). JugaThe God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”

Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika—yang baginya harus ditinggalkan.


Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).

Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.

Jelas gerak “menengok kembali agama” itu bukan gerak kembali kepada asas theisme yang lama. Dalam Philosophy and the Turn to Religion, Hent de Vries mengikhtisarkan kecenderungan itu dalam sepatah kata Perancis yang mengandung dua makna: kata á Dieu, ’ke Tuhan’, atau adieu, ’selamat tinggal’, “satu gerakan ke arah Tuhan, ke arah kata atau nama Tuhan”, yang juga merupakan ucapan “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik… atas pengertian ’Tuhan’ yang itu juga”.

Syahadat Nurcholish Madjid

Tampak, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata.

Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya.Signatum (“petanda”?) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain.

Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha”. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Tuhan” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Tuhan” yang tak terwakili oleh kata itu.

Agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri”. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah signans, dan tak bisa dicampuradukkan dengan signatum yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain—satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.

Di abad ke-13, di Jerman, Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep. Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa… agar dijauhkan aku dari tuhan”. Di tahun 1329 Paus Yohannes XXII menuduhnya “sesat”. Ia diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan.

Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas—bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.

“Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou

Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau—asumsi “metafisika kehadiran”.

Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.

Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.

Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai”) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” —hanya sebuah representasi.

Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”. Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme”.

Namun, memang tak mudah bagi kita yang dibesarkan dalam tradisi Ibrahimi untuk menerima “teologi materialis” Zizek. Umumnya tak mudah bagi para pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi menerima argumen ontologis Badiou yang menganggap “Satu” hanya sebuah representasi meskipun dengan demikian mereka telah memperlakukan Tuhan sama dan sebangun dengan representan-Nya—satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan dasar taukhid Surah al-Ikhlas dalam Al Quran, yang menegaskan “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”.

Kaum monotheis memang berada dalam posisi yang kontradiktif. Apalagi, bagi mereka, Tuhan yang Satu itu juga Tuhan yang personal.

Syahdan, Emmanuel Levinas mengkritik keras Heidegger. Kita tahu, acap kali Heidegger berbicara dengan khidmat tentang Sein (Ada). Sein (Ada) adalah yang menyebabkan hal-hal-yang-ada muncul ber-ada. Bagi Levinas, dengan gambaran itu Sein (Ada) seakan-akan mendahului dan di atas segala hal yang ada (existents). Artinya, dalam ontologi Heidegger, Ada menguasai semuanya. Bagaikan “dominasi imperialis”.

Tampaknya Levinas menganggap Heidegger—pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu—berbicara tentang Ada sebagai semacam tuhan yang impersonal. Juga ketika Heidegger menyebut Yang Suci (das Heilige).

Menurut Levinas, ini menunjukkan kecenderungan “paganisme”. Tanpa mendasarkan Ada dan Yang Suci dalam hubungan interpersonal, Heidegger telah mendekatkan diri bukan ke “bentuk agama yang lebih tinggi, melainkan ke bentuk yang selamanya primitif”.

Levinas—yang filsafatnya diwarnai iman Yahudi—tampaknya hanya memahami agama dengan paradigma monotheisme Ibrahimi. Tentu saja itu tak memadai. Bukan saja Levinas salah memahami pengertian Ada dalam pemikiran Heidegger. Ia juga tak konsisten dengan filsafatnya sendiri, yang menerima Yang Lain sebagaimana Yang Lain, tanpa memasukkannya ke dalam kategori yang siap.

Padahal, dengan memakai iman Ibrahimi sebagai model, Levinas meletakkan keyakinan lain—Buddhisme dan Taoisme misalnya—dalam kotak. Apabila baginya agama lain itu “primitif”, itu karena tak sesuai dengan standar Kristen dan Yahudi. Ia menyimpulkan: di ujung “agama primitif” ini tak ada yang “menyiapkan munculnya sesosok tuhan”.

Levinas tak melihat, justru dengan tak adanya “sesosok tuhan” dalam “agama primitif”, atheisme jadi tak relevan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada theisme sendiri. Saya teringat Paul Tillich.

Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme”.

Tuhan “Tak Harus Ada”

Kini suara Tillich (meninggal di tahun 1965) sudah jarang didengar. Setidaknya bagi saya. Tapi, niatnya menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam-theisme” dan ucapannya bahwa Tuhan “tidak eksist”—sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi”—saya temukan reinkarnasinya dalam pemikiran Marion.

Marion, seperti Heidegger, menafikan tuhan kaum atheis yang sejak Thomas Aquinas (dan secara tak langsung juga sejak Ibnu Rushd, dengan dalil al-inaya dan dalil al-ikhtira’-nya) dibenarkan “ada”-nya dengan argumen metafisika. Baginya, Tuhan yang dianggap sebagai causa sui, sebab yang tak bersebab, adalah Tuhan yang direduksi jadi berhala: Ia hanya jadi titik terakhir penalaran tentang “ada”. Ia hanya pemberi alasan (dan jaminan) bagi adanya hal ihwal, jadi ultima ratio untuk melengkapi argumen. Tapi, di situlah metafisika tak memadai.

Sebab Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.

Di momen yang dikaruniakan itu kita bersua dengan manifestasi les phénomènes saturés, ’fenomena yang dilimpah-turahi’. Di hadapan fenomena dalam surplus yang melebihi intensiku itu, aku mustahil menangkap dan memahami obyek—kalaupun itu masih bisa disebut “obyek”. Bahkan, aku dibentuk olehnya.

“Fenomena yang dilimpah-turahi” itu juga kita alami dalam pengalaman estetik ketika melihat lukisan Matisse, misalnya: sebuah pengalaman yang tak dapat diringkas jadi konsep. Apalagi pengalaman dengan yang ilahi, dalam wahyu: hanya dengan aikon kita bisa menjangkau-Nya.

Aikon, kata Marion, berbeda dengan berhala. Berhala adalah pantulan pandangan kita sendiri, terbentuk oleh arahan intensi kita. Sebaliknya pada aikon: intensi kita tak berdaya. Yang kasatmata dilimpah-turahi oleh yang tak-kasatmata, dan aikon mengarahkan pandanganku ke sesuatu di atas sana, yang lebih tinggi dari aikon itu sendiri. “Aikon” yang paling dahsyat adalah Kristus. Marion mengutip Paulus: Kristuslah “aikon dari Tuhan yang tak terlihat”.

Di sini Marion bisa sangat memesona, tetapi ia tak bebas dari kritik. Dengan memakai wahyu sebagai paradigma “fenomena yang dilimpah-turahi”, Marion—seperti Levinas—berbicara tentang “agama” dengan kacamata Ibrahimi. Bagaimana ia akan menerima Buddhisme, yang tak tergetar oleh wahyu dari “atas”, melainkan pencerahan dari dalam?

Bagi Marion, berhala terjadi hanya ketika konsep mereduksikan Tuhan sebagai “kehadiran”. Tapi, mungkinkah teologi yang ditawarkannya sepenuhnya bebas dari tendensi pemberhalaan?

Dengan pandangan khas Katolik, ia bicara tentang aikon. Tapi, bisa saja aikon itu—juga Tuhan—di-atas-Ada yang diperkenalkannya kepada kita, sebagaimana Gottheid yang hendak digayuh Eckhart—merosot jadi berhala, selama nama itu, kata itu, dibebani residu sejarah theisme yang, jika dipandang dari perspektif Buddhisme Zen, tetap berangkat dari Tuhan yang personal, bukan dari getar Ketiadaan.

Di sinilah kita butuh Derrida. Marion mengira “Tuhan-Tanpa-Ada” yang diimbaunya bisa bebas dari sejarah dan bahasa, tapi dengan Derrida kita akan ingat: kita selamanya hidup dengan bahasa yang kita warisi, dari tafsir ke tafsir. “Tuhan” tak punya makna yang hadir.

Maka Yudaisme, misalnya, cenderung tak menyebut Nama-Nya; dalam nama itu Tuhan selalu luput. “Dieu déja se contredit“, kata Derrida: belum-belum Tuhan sudah mengontradiksi diri sendiri.

Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.

Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

jakarta, 27 September 2007

58 komentar

  1. Marty Becker

    Tuhan itu tidak ada !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Hidup ATHEIS !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    FUCK RELIGION !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. simple man

    arrgghh… mau bertuhan aja pake dibikin ribet sama filsafat2an…

    @Marty
    emang udah sampe mana loe nyari Tuhan?

  3. Sayekti

    Saya hargai ketegasan anda, Marty.
    Anda to the point, tidak seperti GM yang berputar-putar…

  4. sang pendosa

    …yg pasti..di akui atau tidak oleh manusia…Tuhan gak butuh…di anggap atau tidak oleh manusia…Tuhan gak rugi…
    ..atheis ato ber Tuhan…Tuhan tetap eksis…
    ..Tuhan dan religion itu sesuatu yg berbeda…gak ada religion pun Tuhan tetep ada…religion adalah alat bantu utk menemukan Tuhan…
    ..selamat menempuh kegelisahan utk mencari Tuhan…dan jangan menyerah…Tuhan terdekat dg diri kita…sejauh apapun kita berusaha menjauhinya…kegelisahan akan semakin menyelimuti kita…krn kita tdk mampu menjauhi Nya…cari terus…dan hanya kematian yg sanggup menghentikan pencarian itu…

  5. Hamba ALLAH

    Tuhan ada,tapi Dia tak seperti apapun yg bisa kita bayangkan.kita hanya bisa menemukanNya dengan 2 cara.1.kita mati atau 2.kita telah menguasai seluruh ilmu yang ada.
    Hidup bukan hanya soal pencarian,hidup lebih kepada soal penciptaan.
    Jangan sia sia kan hidup hanya untuk memikirkan hal yg tak sanggup kita pikirkan.kita tidak pernah tau batas pikiran kita,tapi pikiran kita tetap ada batasnya.salah satunya ialah jika kita memikirkan keberadaan tuhan.
    JANGAN MEMBUAT JAWABAN HANYA KARENA KITA TAK MAMPU UNTUK MENJAWABNYA.ALLAH HU AKBAR!!

  6. atheist_jakarta

    sekarang kita bertanya saja deh pada diri sendiri …

    memang tuhan itu seadil apa sih ???
    sekarang agama menganjurkan kita untuk berlaku baik biar masuk surga …
    sekarang kami tidak bertuhan ..
    tapi kami berbuat baik …
    apa kami akan masuk neraka hanya karena kami tidak bertuhan ???

    sungguh tidak adilnya tuhan …
    harus menyembahnya agar masuk surga …

  7. Imas

    Dunia ada, tentu ada yang mencipta, siapa penciptanya? ya, Itu Tuhan. karena tidak mungkin sesuatu ada dengan sendirinya.
    Siapa Tuhan? dia pastilah lain dengan ciptaanya. krna jika Dia sama dengan cptaan-Nya, maka Dia baru, atau suatu yang diciptakan pula, atau Dia akan sejajar dengan cptanya dll. Sungguh tak patut jadi Tuhan, Jika begitu.

    lalu, Ketika Tuhan sudah Maha pencipta, dia berhak penuh atas kepemilikan-Nya(ciptaan-Nya).

    Maka -dengan hak-Nya pula- Dia menrunkan undang2 (kitab)bagi makhluk-Nya sebagai petunjuk bagaimana harus hidup, berinteraksi dll. ya, itu adalah Hak-Nya sebagai Pencipta. dan anehnya, Undang-Undang Tuhan itu penuh dengan hal2 baik; tidak berzina, tidak mabuk, tidak mengkonsumsi Narkoba, tidak membunuh dll. Jelas; Tuhan tidak sembarang, dia penuh kasih kepada ciptaan-Nya.

    Jika ini sudah jelas dan diterima, baru kita akan Mengulas “keadilan Tuhan”.

    Tanks

  8. myrrh-myth

    Semua orang itu atheist, dalam artian anda mungkin memegang satu konsep ketuhanan tapi anda atheist terhadap konsep ketuhanan yang lain.

    Anda bisa percaya Allah yang berupa Dzat tapi menolak konsep ketuhanan Thor dengan palunya. Anda ateis 😀

  9. budak dunia

    yang pasti ketika terjadi bencana, rating manusia bertuhan menjadi naik drastis dan agama adalah hanya untuk manusia yang bukan pemalas beribadah.
    males berdoa wae kok nyalah2ke agomo… pekok koe ju!

  10. Nurcholish Madjid

    panassss…. panaaassss…

  11. logika sederhana

    Simple question aja Om GM: apakah dengan tidak beragama atau tidak ber Tuhan, seorang manusia akan lebih bahagia dan lebih baik kehidupannya dibanding dengan mereka yg ber Tuhan? kalau ternyata tidak mempercayai Tuhan tidak ada pengaruh positifnya dalam hidup ini so why bother other people whom believe to God?

  12. Rifqi Ikhwanuddin

    iman itu mudah.. jangan dipersulit. argumen Anda itu hanya untuk orang yang berpendidikan tinggi. ribet bgt..

    buatlah dengan bahasa ringan untuk memahamkan orang lain yang mungkin tidak sepintar Anda..

  13. Nanda

    tulisan ini adalah lukisan tentang Tuhan. Om Gun punya persepsi sendiri. Saya punya persepsi sendiri. Pembaca yang lain pun memiliki persepsi sendiri. Jadi, hiduplah sebaik2nya dengan persepsi masing2. Rangkul manusia lain untuk maju bersama. Masalah ber-Tuhan atau tidak. Masuk surga atau tidak. Itu urusan masing2..:D.

  14. pen-do’a

    Tuhan : ” Ndak tahu diri !”

  15. ahaone

    Ternyata pikiran potensial tidak konsisten untuk dibahasakan.
    Atheis atau theis ternyata keduanya terjebak pada pikiran yg dibahasakan.
    Kalau begitu ada yg lain donk, atheis ataupun theis

  16. Ahaone

    Ternyata pikiran potensial tidak konsisten untuk dibahasakan.
    Atheis atau theis ternyata keduanya terjebak pada pikiran yg dibahasakan.
    Kalau begitu ada yg lain donk, bukan atheis ataupun theis OR gabungan keduanya.

  17. Penemu_Mesin_Waktu

    Saya punya dua teori/cara untuk mengenal tuhan yang -mungkin- dimaksud oleh Pak GM di atas.

    1. Mengenal Tuhan dengan BERTANYA SECARA LANGSUNG (mewawancarai tuhan).

    Dengan cara ini kita, sebagai manusia yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang sangat banyak di dalam dada ini, bertanya saja langsung/secara verbal kepada tuhan tentang apa-apa yang perlu ditanyakan.

    Nah, kalo dirasa cara yang pertama itu tidak mungkin alias MUSTAHIL karena kendala teknis, Berarti MANUSIA HANYA PUNYA cara yang kedua.

    2. Mengenal Tuhan berdasarkan apa yang sudah diciptakannya.

    Ini bisa dimulai dengan mempertanyakan pertanyaan2 seperti berikut ini:
    Apa-apa sajakah yang sudah diciptakan tuhan?
    Sampai sejauh manakah saya benar2 mengetahui SEMUA CIPTAAN Tuhan? maksudnya SEMUA CIPTAAN TUHAN -TANPA KECUALI- YANG MEREPRESENTASIKAN SIAPA DIRINYA. Dalam hal ini termasuk seluruh GALAKSI yang ada di alam semesta ini.

    Analoginya mungkin seperti ini, contohnya, bagaimanakah saya bisa mengenal dan memahami jalan pikiran pak GM, sementara saya sendiri belum melihat atau bertemu beliau secara langsung dengannya? Terlebih lagi Pak GM juga belum tentu sudi untuk bertemu muka dengan fisikawan sinting seperti saya.

    Nah, tentu saja saya bisa mengenal Pak GM dengan membaca-baca karya beliau, tulisan-tulisannya atau yang lain-lainnya yang merepresentasikan “dirinya”.

    Dan, menurut hemat saya (maaf kalau komentarnya kepanjangan) tugas terbesar MANUSIA INDONESIA saat ini bukanlah cuma berpolemik panjang tentang “produk agama” yang mana yang lebih bagus untuk lebih mengenal Tuhan, tapi buktikan dong kemampuan kita sebagai bangsa. Contohnya kita bisa mengalahkan Amerika dalam penjelajahan luar angkasa demi point no.2 tadi yakni UNTUK MENGENAL TUHAN BERDASARKAN APA YANG SUDAH DICIPTAKANNYA.

    Sungguh picik rasanya, kalau ada manusia baik yang atheis maupun pemuka agama theis yang mengaku-ngaku sudah KENAL DEKAT lah, AQRAB lah, SAHABAT TUHAN lah, KEKASIH TUHAN lah, dll, padahal kakinya cuman baru bisa menginjak permukaan bumi doang.

    Bai de wei 1: apakah ciptaan Tuhan cuma planet biru ini saja? (pertanyaan yang gak perlu dijawab)
    Bai de wei 2: kemana aja sih LEMBAGA RISET ILMU PENGETAHUAN negeri ini, kok dari dulu-dulu pada ga ada suaranya? Saya jadi curiga ini lembaga riset ada orangnya apa kagak? Atau mungkinkah negeri Indonesia yang mengaku orangnya pintar-pintar ini, tidak mempunyai semacam institusi ilmu pengetahuan yang bakal menjawab semua “kehausan” kita akan banyak pertanyaan di alam semesta ini? Atau perlu kagak saya yang turun tangan?

    Terima kasih, maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan.

  18. ceng

    Capek-capek baca ternyata tulisan ini cuma permainan kata-kata. Ilmu memplesetkan kata-kata dan makna. Sehingga si pelaku mendapat pembeda antara dirinya dengan yg lain yg akan membuat si pelaku merasa lebih pintar dan lebih tinggi derajad nya di mata TUHAN-nya karena si pelaku merasa telah menemukan sesuatu yg ia sebut kebenaran yg sebenarnya datang hanya dari pemikirannya seorang. Padahal kebenaran sejati hanya milik TUHAN.

    TIdak dapat dihakimi saat ini bahwa kata “TUHAN YANG MAHA ESA” adalah menyekutukan TUHAN. Karena yang berhak menghakimi adalah TUHAN, bukan penulis ataupun nurcholis majid.

    Saya juga tidak dapat menghakimi bahwa 2 kalimat syahadat milik nurcholis majid adalah sesat karena pada niat dan intinya kepada TUHAN juga. Ini hanya permainan kata-kata, yg dibikin serius saja. Padahal yg terpenting adalah niatnya karena TUHAN MAHA MENGETAHUI.

    Janganlah manusia menjelma menjadi tuhan dengan merasa berhak menghakimi.

  19. -.-zzZ

    Metodene G sistematis…
    Atheis g menarik… akeh data tp g jelas arah diskusine.. hassshh..

    tp sing Theis yoh cuman bisa ngomong doang… g pinter2… permainan kata, lha terus cara berdialog itu pake apa…

    g seru kabeh…

  20. Jacky Chen

    Kalian semua adalah Makhluk menjijikan..
    MAti aja lo semua..

    Jangan hanya karena satu buku yg di anggap suci,dan kalian percaya pada itu semua..

    kemunculan Tuhan di dunia ini hanya karena PERASAAN manusia yg merasa bahwa ada sesuatu yg maha y lebi yg suci. apaalah..

    kalian yg berpikir denga perasaan adalah ciri khas peradaban primitif..
    hahhahahaha

  21. Jacky Chen

    ingat orang beragama dibanding ATHEIS = 1:10 di dunia..

    PIKIRKAN !!!

    LEBIH BANYAK MANA ORANG PINTAR DI DUNIA INI DARI PADA ORANG BODOH !!!!

  22. EQI MOHAMAD

    TUHAN DAN AGAMA MEMANG TAK ADA HABIS-HABISNYA UNTUK DIBICARAKAN. TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MENAMPAKKAN DIRINYA JIKA KALIAN TIDAK PERNAH BERPIKIR TUHAN ITU UNTUK AGAMA APA.

  23. KIAMAT SUDAH LEWAT

    manakah dari pernyataan berikut yang paling benar:
    – ciptaan Tuhan paling sempurna adalah manusia.

    – ciptaan manusia paling besar adalah Tuhan.

    kalau memang Tuhan (gak peduli t kecil atau T besar) itu tidak bisa dikonsepkan, tidak bisa dinalar, tidak bisa didefinisikan, maka berarti tuha tidak ada.

    nah kalau tuhan bisa dikonsepkan dan didefinisikan, tentu saja dengan nalar dan konsep manusia, maka berrarti tuhan itu buah cipta nalar manusia.

  24. Wong Goblok

    Bagaimana bila Tuhan dilepaskan dari ideologi saja, lepas dari lingkaran metafisik dan ontologi filsafat ?
    kan jadi enak, netral, yang pintar gak merasa pintar, yang gak pintar juga gak merasa pintar….

  25. toni

    SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN. KALAU ORANG BERAGAMA KELIRU…YA PALING BERAT CUMA CAPEK DOANG.TAPI KALAU ORANG ATHEIS YANG KELIRU…RESIKONYA TERLALU BESAR BUNG. INI CUMA SEANDAINYA…ITUNG-ITUNGAN MASIH MENDINGAN TETEP SHOLAT MENGANGGAP ALLAH ITU ADA, WALAU TERNYATA TIDAK ADA. DARIPADA NDAK SHOLAT, ENGGAK NGANGGAP ALLAH ITU ADA. E..E..E..TERNYATA ADA. SOMBONG BENAR ATHEIS BERBUAT BAIK TAPI MERASA DIRINYA YANG BAIK. BUKAN BERASAL DARI 1(SATU)SUMBER KEBAIKAN(ILHAM)DARI ALLAH. BAYANGKAN 1 MENIT JARI KELINGKING KITA DISLOMOT LILIN RASANYA SEJAM. LHA KALAU SEHARI DI NERAKA, SAMA SAJA 1000 TAHUN DI DUNIA. KALAU KAMI YANG BENAR, RESIKONYA TERLALU BEESAAAARRRR….BUAT ATHEIS YANG KURANG PERHITUNGAN.

  26. ibnusomowiyono

    Jika agama didefinisikan sebagai kepatuhan kepada Tuhan YME maka masing-masing akan sulit untuk mengaplikasikannya secara universal sebab masing-masing agama memberikan petunjuk yang berbeda satu dengan yang lain.
    Seharusnya agama akan menjadi sangat sederhana dan berlaku universal jika merupakan petunjuk untuk menghargai setiap ciptaan Nya (bukan menyembah melainkan saling membutuhkan).
    Bagaimana mungkin kita dapat dikatakan mematuhi perintah Nya dan menjauhi larangan Nya sehingga sanggup mengagungkan Nya jika kita tak mensyukuri setiap yang disediakan bagi kita, tak ikut menjaga kelestariannya bahkan merusak demi kepentingan masing-masing.
    Agar tak rancu seharusnya kita membedakan antara agama dengan Tuhan.
    Perpestik terhadap Tuhan harus “dirubah” dari yang mengatur segalanya menjadi yang menyediakan segalanya. Segalanya itu bukan untuk Dia melainkan untuk ciptaan Nya. Setiap ciptaan Nya diberi kesempatan untuk memanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya. Kalau ingin dimuliakan, maka manusia harus sanggup memuliakan jenisnya, dimulai dari diri masing-masing.

  27. mola

    … Levinas menganggap Heidegger—pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu— …
    kok bawa2 nazi segala sih tuan goen? ntar kan gak enak klo ada yg bilang: “Goenawan Mohamad-pemikir Indonesia yang pernah jadi pendukung Boediono dan entah menjadi pendukung siapa lagi nantinya-” he he…:)

  28. manusia

    Tuhan itu disebut Tuhan karena dia tidak bisa dipikirkan ato dinalarkan dengan sebuah logika belaka..kalo anda mencoba menemukan Tuhan dengan menggunakan logika belaka dan ternyata ‘meng-claim’ berhasil menemukan Tuhan dlm bntuk teori apapun, maka itu bukanlah Tuhan yang sejatinya. karena Tuhan itu berbeda dengan ciptaanNya. semua yang ada di dunia ini adalah ciptaanNya, maka itu brarti anda baru berhasil menemukan salah satu ciptaanNya.

  29. ciget

    anti sama atheis

  30. Namaku

    pasti sekarang sedang ada sesuatu di atas kita semua
    yang melihat masing-masing dari kita sedang menghadap layar komputer atau smartphone kita
    yang membaca artikel ini dari awal sampai habis
    yang membaca komentar-komentar yang kita tulis dengan mengetik huruf A-Z,1-8,tanda baca,capslock,shift,enter,space dan backspace atau delete
    yang kemudian tertawa senang karena rencananya untuk membelit-belitkan pikiran kita dengan sesuatu yang disebut tuhan dan semacamnya, telah berhasil
    mungkin dia tuhan, mungkin di atas tuhan yang kita ciptakan, mungkin di atasnya lagi, mungkin juga orang-orang yang sudah mati mereka mempunyai suatu peradaban diatas kita yang menguasai dan mengatur alam tempat kita tinggal dan segala sesuatunya.
    yaa,kita tidak tahu siapa dia, berjaga-jaga saja supaya tidak jadi bahan lelucon nya/mereka.
    What about just living your damn life without intervening other’s lives

  31. The Bitch

    well, then. i do.

  32. anna silalahi

    pak saya nggak ngerti.. kebanyakan kutipan heheh

  33. anna silalahi

    “Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala”

    tuntutan atheis kan bukannya supaya Tuhan itu punya wujud pak?

  34. eno marhenis

    saya tidak beragama tapi saya percaya Tuhan.
    karna saya percaya Tuhan maka saya sulit menerima agama.
    tapi tidak berarti saya membenci agama.
    karna bagi saya, saya hanyalah ciptaan Tuhan, bukan Tuhan sendiri, jadi saya tidak sempurna.
    dan karna saya tidak sempurna saya tidak mau menghina apapun yang juga sama-sama tidak sempurna.
    manusia tidak percaya Tuhan itu wajar, mungkin karna pengalaman empirisnya, atau mendapat pencerahan lain.
    tapi saya juga tidak membenci atheisme dan agnostik,
    dan belum tentu mereka nanti masuk neraka, karna neraka belum tentu ada……..
    dan yang pasti ada hanya yang membuat “ada” itu sendiri
    siapa dia?
    silahkan jawab menurut penghayatan panjenengan sendiri
    merdeka!!!

  35. Moch. Ulul Azmy

    Para Atheis kayak anak-anak alay di FB aja. Selalu eksis!!

    Meski di diemin pun ya tetep aja kamu berceloteh

  36. avy

    Maaf saya ikut mengoment
    Saya Avi umur 17tahun..
    Saya merasa kasian bagi yg tidak percaya pada tuhan
    Apalagi Allah..
    saya tidak merasa dirugikan bila kalian tidak percaya pada Allah :))
    Berarti surga luas sekali ya tidak seperti bumi yg kumuh dan sesak ini..
    Bagi kalian berfikirlah bahwa tuhan itu ada .
    Untuk apa kalian diberi pikiran kalo hanya mengurusi dunia..
    Toh ibarat dunia itu hanya sementara. Apa yg abadi??
    Apa yg indah di Dunia ini? Ada sesuatu yg baru yg lama kalian bosan
    Kalian harus tau bahwa IMMORTAL just in HEAVEN !!
    You must believe that..
    Semoga kalian bisa berfikir..

    You don’t have to believe me , but we will see it..
    Who is will laugh later :))
    Oke gan 😉
    Wassalamuallaikum

  37. m.Arsyad Gafar

    Makanya, gak usah mikirin Tuhan. Pikirin jasadmu sendiri saja. Pikirin bagaimana jantungmu berdenyut. Bagaimana pangkreasmu memproduksi insulin agar gula darahmu stabil. Pikirin urat-uratmu yang bila direntang bisa sepanjang Jakarta-Hongkong..
    Allah sendiri berfirman: Jangan fikirkan Dzatku, tapi fikirkanlah apa yang telah kuciptakan…!!!
    Selamat berfikir.

  38. vian

    bismillahirrahmanirrohim,,,
    allah itu ada.
    kalian harus mikir kalian di ciptakan dulunyah sama siapa,,?
    begitu pun bumi di cipkan nyah oleh siapa?
    masa iyah ada asap ngga ada api..

  39. Mohamad Yamin

    “Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.” Lantas dengan gaya bahasa/kalimat bagaimana sehingga kita dapat menyatakan Tuhan itu Satu tanpa merasa atau dianggap menyekutukannya???

    “Alat2 tuan rumah tidak akan dapat membongkar rumah si Tuan rumah” Laode. Sejalan dengan konsep kedhaifan Mas Goen,yaitu keterbatasn pemikiran manusia,kelemahan bahasa manusia dalam mengartikan serta mengungkapkan arti sebuah kata.Jadi dalam perspektif saya,selama manusia memakai pemikiran manusia dan juga tata bahasa manusia yg dhaif,selamaya tidak dapat membongkar, mendefinisikan, memaknai arti hakiki ke-Tuhan-an. Sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali ” Usaha manusia dalam memahami konsep Tuhan akan mentok dikarenakan keterbatasn Indrawi”

    Bukan kah dalam syahadat “Tiada Tuhan selain Allah”, juga berarti Tidak menjadikan entitas,benda,rasio,akal,ilmu pengetahuan,atau bahkan puisi sebagai Tuhan??

  40. Sein

    Saya suka tulisan mas Gun yang ini. Terutama cara penggambaran signans dan signatumnya. Tapi sepertinya banyak yg salah fahami tulisan ini. Mungkin Saussure saja yg bantu menjelaskan..salut mas Gun!

  41. Sein

    atheism itu sexy, keren, dan modern bagi banyak orang. Tapi ya sama saja, atheism juga belum bisa memberikan jawaban ketika ditanya ‘bisa nggak membuktikan kalo Tuhan tak ada?’ Jadi, jalani kayakinan saja, jangan malah saling komentar yg nggak relevan dengan isi tulisan!

  42. ana

    perkenalkan saya ana .. seorang gadis kecil yang sedang kebingungan dan ingin bertanya :
    => Agama yang menciptakan Tuhan??
    atau ..
    => Tuhan yang menciptakan agama??

  43. Hijan

    Kalau Anda boleh meyakini pendapatmu, mengapa orang lain tidak?
    Keep Calm & be Yourself.

  44. Ibnusomowiyono

    Sebuah kata dapat memiliki banyak arti (ambigus) , sehingga agar tak ambigus sebuah kata dapat didifinisikan atau digunakan dalam sebuah kalimat.
    a.Definisi kata tuhan diantaranya: tuhan ialah yang (kata sambung pengganti yang ada maupun yang tidak ada) dapat memberikan apa yang diinginkan oleh yang mempertuhan dan menghindarkan/menjauhkan dari yang tidak diinginkan oleh yang mempertuhan. Definisi ini bersifat subjektif sekaligus objektif.
    b.Kata tuhan digunakan oleh penulis/pembicara dalam sebuah kalimat sehingga dapat dimengerti maknanya, dibedakan dengan tuhan dalam pengertian lain.

    Secara subjektif tiap manusia dapat memandang objek (tuhan) sesuai dengan fikiran atau keyakinan masing-masing, oleh karena itu walau tuhan tak dapat dibuktikan keberadaannya, tak dapat dihitung jumlahnya, maka secara subjektif setiap manusia dapat berfikiran atau berkeyakinan sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
    Menurut Teori Som Wyn, paling tidak ada tiga sudut pandang mengenai tuhan sehingga dibutuhkan kata khusus untuk membedakan sudut pandang masing-masing.
    a. tuhan (huruf kecil kecuali pada permulaan kata atau datar pada yang diucapkan/tak tertulis), digunakan oleh mereka yang materialistik, sehingga tuhan dapat berujut materi (nyata) atau non materi (tak nyata)
    misalnya uang, kedudukan,
    b. Tuhan digunakan oleh mereka yang religious, sebagai yang menjanjikan “hadiah” bagi yang mematuhi petunjuknya dan memberikan sangsi (menghukum) bagi yang ingkar. Dinyatakan dengan huruf besar di depankata atau dengan tekanan emosi saat diucapkan.
    c. Tuhan Yang Maha Esa: digunakan oleh bangsa Indonesia sebagai pemersatu seluruh umat manusia atau spiritual ilmiah, adalah:
    1. menyediakan segalanya, baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan oleh manusia.
    2. memberikan kesadaran (consciousness)kepada setiap ciptaanNya untuk mengurus diri sendiri, jenis dan lingkungan.
    3. memberikan pilihan kepada manusia untuk memilih: patuh pada Tuhan atau menuruti hasrad sendiri.
    4. Semua yang terjadi merupakan ulah ciptaanNya, namun pasti telah mendapatkan izin dari Dia. (Axioma Som Wyn).
    5. Izin hanya akan diberikan kepada ciptaannya (termasuk manusia) yang berusaha dan sanggup melakukan action untuk mencapai keinginannya serta berani menanggung risikonya.

    Kata pembeda Yang Maha Esa bukan karena jumlah objek (tuhan) dapat dihitung, melainkan subjeknya (manusia)berbeda-beda sudut pandangnya, ada yang materialistik ada yang religious dan terpecah-pecah sudut pandang/keyakinannya.

    Teori Som Wyn adalah bagian dari Teori Minimalis yang tujuan utamanya: menjadikan mereka yang alergi terhadap Tuhan versi religious menjadi dapat terhindar atau keluar dari Atheisme Modern, yang dimulai dari materialisme.
    Disamping itu Axioma Som Wyn bertujuan agar ilmu pengetahuan dapat mengimbangi penyalah gunaan wewenang Tuhan YME, dengan membedakan antara Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengatur segalanya dengan Tuhan YME sebagai yang dinyatakan oleh Teori Som Wyn.

    Kesimpulan: Tak ada alasan untuk menjadikan Tuhan YME untuk menghalangi kebebasan berfikir dan kebebasan berkeyakinan, Tuhan YME justru memberikan tantangan kepada manusia untuk sanggup berbuat untuk memenuhi keinginannya sepanjang berani menanggung risikonya.

    Banyak contoh: KB dulu ditentang oleh agama,ternyata sangat bermanfaat, bayi tabung dianggap melampaui wewenang Tuhan.
    Manusia telah sanggup memanfaatkan energi nuklir, namun jika tak berani menanggung risikonya, pastilah izin dari Tuhan YME itu tidak dimanfaatkan.

  45. asadi

    Hubungan di dunia ini cuma ada 2 yaitu hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia.
    Menurut pendapat saya pribadi kaum atheis lebih mengutamakan hubungan pada manusia dengan mengesampingkan hubungan dengan Tuhan. Saya sendiri adalah orang yang memeluk agama dan percaya bahwa Tuhan itu ada.

    Sekarang begini saja, untuk para kaum atheis terutama tertuju pada komentar no. 6
    Jika kalian suka berbuat baik, siapakah yang membuat rasa ingin berbuat baik ada di dalam pikiran kalian ?
    Siapakah yang membuat kalian mempunyai akal dan pikiran ?
    Apakah kalian dapat membuat akal dan pikiran ?
    Klo kalian bisa, coba praktekkan buatlah akal dan pikiran untuk suatu makhluk ?
    Bagaimana nyawa itu bisa terbentuk ?
    Apakah kalian bisa menjelaskan semua kejadian yang tidak logis di dunia ini secara bahasa logika ?

    Itu cuma sedikit dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di dunia ini yang sangat sulit atau tidak dapat untuk dijelaskan secara logika.

    Kehidupan kalian siapa lagi yang memberi kalau bukan Tuhan.
    Apa yang kalian ragukan dari Tuhan ?
    Untuk siapa kalian hidup dan pada siapa kalian itu takut ?
    Memang benar Tuhan tidak butuh disembah, tapi kita yang butuh Tuhan.
    Ada beberapa pertanyaan tentang Tuhan yang tidak dapat terjawab dan memang tidak pantas untuk ditanyaka, karena kita sebagai orang beragama selalu yakin bahwa Tuhan itu ada, bahwa Tuhan yang memberi kita kehidupan dan akal pikiran.
    Apakah kalian baru percaya Tuhan kalau Tuhan itu harus terlihat di depan mata kalian ?
    hei memang siapa kalian harus diperlakukan khusus seperti itu hahaha

    Jadi untuk kau atheis tolong cari semua jawaban di atas, dan balas dengan komentar di bawah saya.

  46. Dj Sperm

    @45. Asadi:
    Apakah anda beragama karena bertanya atau bertanya lalu menjadi beragama?

    Kalau sudah mempunyai jawaban karena anda merasa beragama, kenapa harus bertanya kembali?

    Dan saya tidak merasa harus menjadi kaum atheist seperti yang anda sebutkan untuk bertanya!

  47. akungibnu

    Tuhan Yang Maha Esa adalah hasil akal budi manusia (bukan dogma) demi menyatukan isi alam semesta yang diberikan/memiliki kesadaran untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing sehingga dapat teratur (cosmos), namun dapat menjadi kacau (chaos) akibat berebut kepentingan. Kondisi dapat kembali teratur saat masing-masing menyadari kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bersama. Jadi Tuhan Yang Maha Esa harus dibedakan dengan Tuhan yang menjadikan manusia “terbelah” antara yang atheis dan religious.
    Seandainya manusia tidak hadir (tidak ada) bukan berarti Tuhan YME tidak ada, sebab manusia bukanlah Tuhan yang maha tahu. Lebih banyak yang tidak terjangkau oleh kemampuan manusia dibanding yang mungkin terjangkau oleh kemampuan manusia, namun manusia berusaha tahu hingga sok tahu, karena selalu berusaha tahu darimana semua yang tersedia disekitarnya, dibumi, dilangit…… di seluruh Alam Semesta bahkan di Alam Abadi.

    Catatan: manusia itu mempunyai otak cerdas, jadi dapat membedakan antara satu,dua,…….. setengah, sepersejuta sampai pecahan terkecil. ………… Anehnya: dalam matematika tidak didefinisikan nol (tidak dapat dihitung) , dalam fisika dianggap isi dunia dan alam semesta hanya partikel yang dapat terakses oleh pancaindera atau peralatan fisika,jadi karena tak terakses oleh pancaindera dan peralatan fisika, maka Tuhan dinisbikan. Disisi lain Tuhan dipandang sebagai sang maha pengatur, hingga menghalangi kebebasan berkeyakinan, berfikir apalagi berbuat.
    Tuhan YME adalah hasil akal budi manusia, jadi kata Esa atau satu sangat rational agar umat manusia bahkan seluruh isi alam semesta tidak tercerai berai, walau masing-masing memiliki kesadaran berbeda.

  48. tuhanposmo

    menggelitik. pertama untuk teisme modern yang membangun “tuhan” sebagai konklusi diskursus kita. saya sendiri baru pertama kali melihat sudut pandang seperti ini di dalam teisme. mungkin karena saya belum mengkhatamkan Heidegger dan Postmodernism 🙂

    yang kedua, untuk ateis sendiri yang tertipu oleh “tuhan-berhala” para teis.

    Salam damai
    Non-believer indonesia yang mengagumi anda 🙂

  49. akungibnu

    Teori Minimalis dan turunannya merupakan pendukung Spiritual Ilmiah.
    Spiritual mengakui adanya yang melebihi kemampuan manusia yang terakses oleh pancaindera (E=0) dan batin (E=-x) manusia. Ilmiah didasari oleh penggunaan akal (E=y). Spiritual ilmiah berbeda dengan materialisme karena SI merupakan “keseimbangan dinamis” antara akal (E=y) dan batin (E=-x), sedangkan materialisme merupakan “keseimbangan statis” (E=0).

    Menurut TM paling tidak ada empat tahap perkembangan peradaban manusia:
    1. Spiritual Alamiah= Natural Spirutuality (NS), saat manusia belum memanfaatkan fikirannya, sehingga mengakui adanya “sesuatu” yang melebihi kemampuan manusia, yaitu alam. Saat ini manusia mengandalkan pancaindera  (“=) dan kemampuan paralogika negatif (“#) . Notasi Spmnya “(=+#)” belum dalam taraf penyatuan pancaindera dengan kemampuan para logika “(=*#)” sehingga dapat memanfaatkan kemampuan berfikirnya.
    2. Spiritual Religious, saat manusia berusaha mendapatkan sang pencipta alam, yaitu “tuhan”. Manusia telah mulai memanfaatkan fikirannya , mencari sang pencipta alam yang berdasar logika fikir (metafisika)  pasti sanggup menundukkan alam. Berkat spiritual religious manusia tidak takut lagi pada kekuatan alam karena telah menemukan sang pencipta alam.
    Spiritual Religious memanfatkan “dogma” untuk menata kehidupan manusia yang tidak takut lagi pada kekuatan alam agar tidak bertindak sesuka hatinya, sehingga dapat merusak kelestarian alam yang dibutuhkan oleh manusia.
    Manusia berlindung dibawah Tuhan Yang Maha Kuasa (bedakan dengan Tuhan Yang Maha Esa), yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi yang patuh kepadaNya dan memberikan sangsi pada yang ingkar.
    Dogma bersifat alami  dan universal sehingga tidak perlu dibuktikan lewat pancaindera maupun akal.
    3. Science yang materialistik= Materialistic Science (MS)  mengandalkan pancaidera  dan peralatan fisika sebagai hasil akal manusia. Tuhan YMK dirasa mengekang kebebasan berkeyakinan, berfikir apa lagi berbuat.
    Karena Tuhan tak dapat terakses oleh pancaindera dan peralatan fisika, sedangkan dogma tidak dapat diterima oleh akal yang individual namun ilmiah (bedakan dengan fikiran yang alami dan universal), maka Science menyatakan bahwa isi alam semesta hanyalah materi. Materialisme inilah yang menjadikan manusia menjadi atheis.
    4. Spiritual ilmiah= Scientific Spirituyality (SS) adalah upaya manusia membebaskan diri dari atheisme sekaligus menempatkan Tuhan YME (bedakan dengan Tuhan YMK) sebagai pemersatu seluruh umat manusia,agar tidak terkotak-kotak.

    Keempat tahapan itu berlaku secara tumpang tindih (over lap), tahap ke 1 belum selesai telah disusul tahap ke 2, ke 3 dan seterusnya.
    Hal ini membuktikan bahwa peradaban manusia berlangsung secara revolusioner (berubah dengan sangat cepat), berbeda dengan peradaban tumbuh-tumbuhan dan hewan yang berlangsung secara evolusioner (lamban/ memerlukan waktu sangat panjang)
    Silakan baca Teori Evolusi Darwin vs Teori Revolusi Som Wyn.

  50. akungibnu

    1.Spiritual Alami “(=+#)” sintesa hasil pengamatan pancaindera dan kemampuan bawah sadar, hingga manusia takut pada alam dan lingkungannya.
    2.Spiritual Religious “(>*<)”: keseimbangan dinamis  antara fikiran  (“>) yang alami dan dogma yang alami (“<)

    3. Materialistik Science (MS) :  ‘(>*=)‘  penyatuan akal dan peralatan fisika  menyadikan manusia mempertuhan akal dan peralatan fisika yang sanggup memperluas pancaindera hingga sanggup mengakses seluruh Alam Semesta( versi Science) dan partikel yang sangat halus, sehingga dapat menyajikan kenikmatan duniawi.

    4. Spiritual Ilmiah = atau Scientific Spirituality (SS)   ‘(><)’ sintesa dari akal (individual dan ilmiah) dan doktrin  atau “dogma”  sebagai pengimbang akal, bukan sekedar pengimbang fikiran  ( doktrin individual dan ilmiah) sehingga manusia memiliki budi pekerti yang dapat dinilai oleh sesama manusia berdasar akal budi, bukan oleh Tuhan. Manusia juga memiliki akal budi yang dapat digunakan untuk menilai budi pekerti sesama manusia

    1. Teori Minimalis (TM) mengupas isi Alam Semesta yang berupa energy yang dapat terakumulasi menjadi body atau berosilasi sebagai wave.

    TM menginformasikan bahwa Alam Semesta merupakan sebuah sistem tertutup sehingga jumlah energinya tetap, namun dapat berubah sifat/kesadarannya (dimensinya) sesuai dengan perubahan waktu (dimensi t)

    Formula Supernatural Modern FSM) E= – x + y dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan berbegai jenis energi yang mengisi Alam Semesta yang bercampur/berbaur menjadi satu secara acak, namun memiliki kesadaran masing-masing.
    Energi tak mungkin meninggalkan Alam Semesta.
    2. Teori Minimalis Plus (TM+) menginformaxsikan adanya Non Energy yang mengisi Alam Semesta dan dapat meninggalkan Alam Semesta tanpa menyebabkan keseimbangan energi yang membentuk macrocosmos.)
    3, Teori Som Wyn menginformasikan adanya microcosmos yang merupakan interaksi antara body yang tersusun dari energi yang merupakan bagian dari macrocosmos dengan soul atau zeros (z). Formula Som Wyn menyatakan z # – x + y. Interaksi antara E dengan z menghasilkan microcosmos.
    4. Macrocosmos dapat dimengerti oleh kemampuan manusia, z dan Non energy tak mungkin dimengerti oleh manusia, sebab merupakan rahasia Tuhan YME. (bedakan dengan Tuhan).

    Dogma tentang adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang diyakini lewat Spiritual Religious, sangat dibutuhkan untuk mengimbangi fikiran manusia yang tidak lagi takut pada lingkungannya (Alam Semesta) agar manusia dapat “dikendalikan” dengan Moralitas Agung (MoA).
    5. Microcosmos dapat dimengerti oleh manusia karena mengandung unsur energy.

    Menurut Teori Som Wyn: ada tujuh lapis microcosmos yang dapat terakes oleh kemampuan manusia:
    1. Living organisme: dapat terakses oleh pancaindera dan peralatan fisika. Mengalami bio ritmic, sadar dan bawah sadar dan tidak immortal.
    2. Living astral body atau spirit: dapat terakses lewat kemampuan bawah sadar. semi immortal karena memiliki kesadaran laten.
    3. Living dark body dapat terakses lewat fikiran. Tidak immortal dan tak mengalami bioritmic.
    4. Living bright body dapat terakses lewat keyakinan. Tidak immortal dan tak mengalami bio ritmic’
    5. Talent body dapat terakses lewat fikiran/akal. Tallet body immortal, tak nengalami bioritmic.
    6. Holly body terakses lewat dogma/batin. Holly body immortal.
    7. Non body hanya terakses lewat dogma. Non body immortal dan siap meninggalkan Alam Semesta menuju Alam Abadi.

  51. akungibnu

    Psychominimalis
    Psychominimalis berbasis Teori Minimalis yang dualistik: sehingga mengakui adanya Alam Abadi (Alam Baka) disampinh Alam Semesta (Alam Fana), namun karena Alam Abadi tak terjangkau oleh akal nanusia (bedakan dengan fikiran manusia), maka tidak mempermasahkan fenomena Alam Abadi.

    kumulasi menjadi body atau berosilasi sebagai wave.
    TM menginformasikan bahwa Alam Semesta merupakan sebuah sistem tertutup sehingga jumlah energinya tetap, namun dapat berubah sifat/kesadarannya (dimensinya) sesuai dengan perubahan waktu (dimensi t)
    Formula Supernatural Modern FSM) E= – x + y dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan berbegai jenis energi yang mengisi Alam Semesta yang bercampur/berbaur menjadi satu secara acak, namun memiliki kesadaran masing-masing.
    Energi tak mungkin meninggalkan Alam Semesta.
    2. Teori Minimalis Plus (TM+) menginformaxsikan adanya Non Energy yang mengisi Alam Semesta dan dapat meninggalkan Alam Semesta tanpa menyebabkan keseimbangan energi yang membentuk macrocosmos.)
    3, Teori Som Wyn menginformasikan adanya microcosmos yang merupakan interaksi antara energi yang merupakan bagian dari macrocosmos dengan soul atau z. Formula Som Wyn menyatakan z # – x + y. Interaksi antara E dengan z menghasilkan microcosmos.
    4. Macrocosmos dapat dimengerti oleh kemampuan manusia, z dan Non energy tak mungkin dimengerti oleh manusia, sebab merupakan rahasia Tuhan YME. (bedakan dengan Tuhan) Dogma tentang adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang diyakini lewat Spiritual Religious, sangat dibutuhkan untuk mengimbangi fikiran manusia yang tidak lagi takut pada lingkungannya (Alam Semesta) agar manusia dapat “dikendalikan”.
    5. Microcosmos daoat dimengerti oleh manusia karena mengandung unsur energy.
    Menurut Teori Som Wyn: ada tujuh lapis microcosmos yang dapat terakes oleh kemampuan manusia:
    1. Living organisme: dapat terakses oleh pancaindera dan peralatan fisika. Mengalami bio ritmic, sadar dan bawah sadar dan tidak immortal.
    2. Living astral body atau spirit: dapat terakses lewat kemampuan bawah sadar. semi immortal karena memiliki kesadaran laten.
    3. Living dark body dapat terakses lewat fikiran. Tidak immortal dan tak mengalami bioritmic.
    4. Living bright body dapat terakses lewat keyakinan. Tidak immortal dan tak mengalami bio ritmic’
    5. talent body dapat terakses lewat fikiran/akal. Tallet body immortal, tak nebgalami bioritmic.
    6. Holly body terakses lewat dogma/batin. Holly body immortal.
    7. Non body hanya terakses lewat dogma. Non body immortal dan siap meninggalkan Alam Semesta menuju Alam Abadi.

  52. akungibnu

    Baca Spychominimalis!

  53. fatih_akbar

    mari istirahat sejenak dari perdebatan selama ini. coba kita maknai dari video ini >>> http://www.youtube.com/watch?v=PAbDm-zQQGA

  54. akungibnu

    Saya telah menyaksikan “film” yang disarankan oleh fatih_akbar.
    Film tersebut sangat mudah diterima oleh mereka yang ber agama langit (agama Ibrani), namun tidak sepenuhnya sesuai dengan yang ber-agama bumi (yang sangat dekat dengan Spiritual ilmiah)

    Menurut Teori Paralogika yang memanfaatkan komputer sebagai model organisme dan user sebagai model soul atau spirit, living organisme ada dua jenis:

    1. Whiteblank Body (WB) yang sepenuhnya patuh pada Tuhan YMK (versi Spiritual Religius) sehingga meyakini bahwa hidup hanya sekali, sehingga tidak dapat dipertaruhkan/harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar dapat memperoleh kebahaguiaan abadi, bukan siksa berkepanjangan.
    Agama langit terpecah menjadi berbagai agama yang memiliki kitab suci yang berbeda, sehingga penganutnya berbeda imannya notasinya “(<<)’. namun pada dasarnya meyakini bahwa hidup hanya sekali sehingga tidak menginformasikan adanya kesempatan berreinkarnasi ( mengalami siklis kehidupan).

    a. Agama Islam ada istilah “alam kubur” yang bermanfaat untuk “mempertanggung jawabkan” semua yang dilakukan dalam kehidupan yang sangat singkat agar siap menghadapi “peradilan” akhir(at)

    b. Agama Kristen dikenal kata RIP (Rest In Peace= Istirahat dalam damai) sebab penganutnya yakin dosa-dosa selama hidup telah di tebus oleh Jesus yang siap membukakan pintu surga.

    Teori Som Wyn tidak menyangkal kebenaran agama langit, yaitu pencapaian langsung ke tingkat paling tinggi dari sistem microcosmos, yaitu dari living organisme langsung ke Non body sehingga siap keluar/meninggalkan Alam Semesta memasuki Alam Abadi. Menurut agama langit semua akan mengalami peradilan akhir(at) yang akan berlangsung setelah “Kiamat” sehingga istilah kiamat menjadi teramat penting bagi Agama Langit.

    2.Reinkarnated Body (RB) yang memanfaatkan kesempatan ber reinkarnasi sebelum sanggup mencapai tingkatan Non Body. Reinkarnated Body mengalami siklis hidup dalam pencapaian tertinggi dalam  sistem microcosmos, yaitu tingkat Non Body. Tingkatan ini hanya akan tercapai saat spirit berniat dan sanggup melepaskan ikatan spiritualnya antara tubuhnya yang berupa astral body dengan yang mengendalikannya yaitu soul.

    Jadi sesuai dengan Teori Som Wyn yang menyatakan Alam Semesta bukan hanya terisi oleh macrocosmos sebagai yang diinformasikan dalam Teori Minimalis, melainkan juga terisi oleh microcosmos yang merupakan interaksi antra Body yang tersesun dari energi (E= -x+y) dengan soul (z # – x + y) dalam tujuh tingkatan:
    1. living organism,
    2. living astral body (spirit),
    3. living dark body,
    4. living bright body,
    5. talent body,
    6. holly body
    7. non body.

    Penggunaan model komputer dan user gunanya untuk mempermudah memahami Spiritualisme, baik Spirirtual Alami, Spiritual Religius maupun spiritual ilmiah.
    Mengapa? Saat ini komputer dan user sangat mudah dimengerti oleh peradaban materialistik saat ini.

  55. akungibnu

    Iman itu sangat penting, namun jika tidak diimbangi dengan akal budi, akan menjadi sangat mengerikan, sebab tanpa akal budi manusia tidak akan sanggup menilai budi pekerti orang lain,apalagi yang berbeda imannya, padahal yang sanggup menilai iman seseorang hanyalah Tuhan.
    Dalam bermasyarakat (majemuk) seseorang harus sanggup membedakan antara yang baik dan buruk bagi kehidupan bersama tanpa membedakan iman.

    Perbedaan itu dapat diterima berkat kemampuan akal budi untuk menilai budi pekerti seseorang bukan berdasar iman seseorang yang hanya dapat dinilai oleh Tuhan, melainkan berdasar perilaku dan budi pekertinya.

    Psychominimalis menyediakan notasi dan operator matematis untuk meringkas uraian perilaku manusia, bukan berbasis Science atau RS, melainkan berbasis TM. Diantaranya:
    a. (>>) untuk menyatakan superiorisme intelectual atau etelengensia yang dapat bergabung dengan materialisme yang berakibat atheisme., sehingga menisbikan Tuhan yang dianggap membelenggu kebebasan berkeyakinan, berfikir apalagi berbuat.
    c. ‘(><)’  untuk menyatakan keseimbangan akal dan batin yang merupakan dasar dari Spychominimalis.
    d.”(==)’ untuk menyatakan maksimalisme yang merupakan penguatan pancaindera dengan peralatan fisika.
    e. (>) fikiran atau akal.
    g. (=) pancaidera atau peralatan fisika..
    h: “(<+<)’  terpecahnya dogma dan batin yang menyebabkan seseorang menjadi munafik..
    i: “(>+>)’ terpecahnya fikiran dan akal yang menjadikan seseorang bimbang antara kepentingan bersama dan kepentingan pribadi.
    j: (=+=) terpecahnya kemampuan pancaindera dengan peralatan fisika hasil akal budi manusia. Manusia tidak puas dengan materialisme sehingga akan kembali pada spiritualisme.
    k: ‘(>+<)’  terpecahkan akal dan batin menyebabkan kepribadian  terpecah/alter ego, namun jika tanda + berubah menjadi * yang terjadi adalah kepribadian ganda  ‘(>*<)’

    Ingin mengetahui Psycho Minimalis: cari akungibnu atau Psycho Minimalis. Silakan memberi tanggapan.

  56. akungibnu

    koreksi a: seharusnya (>>) bukan ()
    b: (<<): iman adalah penyatuan dogma dan batin.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Tiada tuhan selain Tuhan.

  1. Akung Ibnu berkata:

    Harus dibedakan antara Agama dengan Religious Spirituality (RS). RS berdasar keseimbangan dinamis antara fikiran dan dogma yang alami dan universal “(><)". Agama berdasar buku suci yang menjadikan tiap pemeluknya harus beriman "(<<)', Iman adalah penyatuan antara dogma yang tidak lagi universal ( karana harus sesuai dengan kitab suci masing-masing) dengan batin yang individual.

  2. Akung Ibnu berkata:

    Pendapat ananda XYZ sesuai dengan TM bahwa dogma merupakan bangunan yang sempurna sehingga tidak perlu bahkan tidak boleh diubah atau disesuaikan dengan kebutuhan, namun sebagai konsekwensinya jika dogma tidak disesuaikan dengan kebuthan akan “ditinggalkan” oleh manusia yang tidak setia pada dogma atau pecah menjadi “dogtrin” yang “berbeda-beda” sesuai yang dibutuhkan kelompok yang ingin melestarikan dogma sebagai mekanisme mengatur kelompoknya. Jika mau jujur doktrin berbeda dengan dogma, namun masing-masing doktrin diyakini sebagai dogma oleh kelompok yang bersikeras untuk “mewarisi dogma yang alami dan universal.
    Alam semesta dikuasai oleh dimensi waktu, sehingga setiap saat isinya selalu berubah, namun manusia mendambakan “keabadian” yang dijanjikan oleh Tuhan bagi yang mematuhi petunjuk Nya dan memberikan sangsi bagi yang ingkar. Agama (khusunya agama langit) memanfaatkan janji Tuhan dengan mekanisme pahala dan dosa.
    Iman sangat dibutuhkan untuk mengatur masyarakat manusia, namun jika tidak diimbangi dengan akal budi (keseimbangan antara akal dan batin) akan menyebabkan kondisi kacau akibat berebut kepentingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s