Benarkah matematika tidak mendefinisikan nol?

Pertanyaan: Membaca tulisan Bapak Gunawan Mohamad  dalam:  Atheisme dan Tuhan yang Tidak  Harus  Ada ada bagian tulisan yang menyatakan bahwa lawan dari  banyak bukan satu melainkan nol, yang artinya tidak harus ada . 

Saya teringat tulisan pak de Ibnu  yang mendifinisikan nol versi Teori Minimalis.
Menurut  Matematika Minimalis (MM) : nol adalah hasil penjumlahan dua bilangan skalar yang sama besarnya dan tanda matematikanya berlawanan, yaitu plus dan minus.
Pak de menggunakan FSM E = – x + y. E akan bernilai nol saat  x = y. Pak de juga menjelaskan dengan vektor: Sepasang vektor yang modulusnya sama yang bekerja pada satu titik tangkap jika arahnya  berlawanan (sudut phasanya  berbeda 180 derajat) akan menghasilkan nol atau kondisi seimbang prima.

Benarkah penjelasan itu murni hasil kotak katik pak de Ibnu, bukan plagiat dari orang jenius sebelumnya?

Jika benar pendefinisian nilai nol dilakukan oleh  pak de  Ibnu , saya tidak keliru menominasikan pak de Ibnu sebagai  Ahli Fikir Abad ke 21.

Bagaimana menurut pak de?

Jawaban: Terus  terang  definisi nol versi  Teori Minimalis itu hasil kotak-katik pak de Ibnu, namun menurut mas Sigit Setia Prabawa dan putranya,  Arif Wicaksana Prabawa, yang kini menetap di Amerika Serikat, angka nol tidak didefinisikan dalam matematika. Angka nol baru ada pada Angka Arab, tak dikenal sebelumnya, misalnya Angka Rumasi tak ada  angka yang mewakiti nol.

Jika Ananda XYZ  dapat menemukan  ilmuwan atau orang jenius yang mendifinisikan angka nihil atau nol  sebagai yang didefinisan oleh Matematika Minimalis , sebelum pak de mendifinisikan nilai nol  versi Teori Minimalis, artinya kotak-katik pak de  perihal  Matematika Minimalis memang ilmiah. Pak de tidak berkecil hati dikatakan plagiat, yang  tidak masuk akal  alias tidak ilmiah justru pernyataan   Ananda YYZ yang menominasikan pak de Ibnu  sebagai Ahli Fikir abad 21.

Jangan mengkultuskan pak de Ibnu yang ilmu pengetahuannya sangat terbatas/minimal sehingga  hanya pantas disebut tukang kothak kathik.

Bagaimana menurut Ananda XYZ?

———————————————————————————

Sebaiknya pak de kutip lagi tulisan Bapak Gunawan yang berubungan dengan makna nol: 

Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas—bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.

“Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou

Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau—asumsi “metafisika kehadiran”.

Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yangdapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.

Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.

Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai”) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” —hanya sebuah representasi.

Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”.Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme”.

———————————————————-

 Benarkah Lawan multiplisitas  bukan “Satu”, tapi “Nol”?

Menurut  MM  “lawan” dari multiplisitas  adalah Nol , tetapi  lawan Nol bukan hanya satu melainkan yang bukan nol ,hal ini dapat dijelaskan dengan MM yang menggunakan FSM E = – x + y yang menyatakan hanya ada dua kemungkinan E = 0 atau E # 0, jadi “satu” adalah bagian dari multiplisitas  bukan bagian dari nol.

Kesimpulannya satu dapat mewakili yang banyak, tetapi tidak dapat mewakili nol. Yang banyak dapat direduksi menjadi satu, ini artinya kebinekaan dapat disatukan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa,  karena yang banyak masih mungkin direduksi menjadi satu, namun tak mungkin direduksi menjadi nol.

Atheisme mereduksi satu menjadi nol , hingga menganggap Tuhan yang satu  menjadi tidak ada (nol)  jelas bertentangan dengan MM yang menyatakan hanya ada dua kemungkinan E=0 atau E#0.

Berdasar MM nol  tidak termasuk dalam “satu” maupun “yang banyak”. Jika jujur, baik yang monotheis, teis  maupun yang atheis   semua  masih mungkin menerima Tuhan YME  , hasil akal budi manusia  yang  bukan nol melainkan satu dan tidak lebih dari satu, kalau lebih dari satu pasti tak dapat disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa melainkan Tuhan Yang Maha  Banyak.

Tuhan Yang Maha Esa  dapat  mewakili yang banyak (termasuk yang satu)  tanpa mereduksi  yang satu menjadi nol.  Mengapa? Tuhan Yang Maha Esa adalah hasil akal budi manusia, bukan dogma.

Matematika tidak mendifinisikan nol atau nihil, bukan berarti nol  (yang tidak didefinisikan oleh Matematika) tidak ada, sebagai halnya Einstein tak dapat menemukan eter, bukan berarti eter tidak ada.

Matematikan Minimalis mendifinisikan nol atau E=0 justru sebagai permulaan adanya sesuatu yang  terakses oleh  pancaindera dan peralatan fisika hasil pemikiran/akal manusia yang menjadi dasar Science.

Berdasar MM  nol datangnya kemudian, sesuai dengan MM  datangnya setelah Matematika.

Perbedaan antara Matematika dengan Matematika Minimalis:

a.Matematika ( Ilmu Fikir tanpa diimbangan dogma)   merupakan pendukung MS yang berdasarkan logika fikir (metafisika) hingga menisbikan dogma  b.Matematika Minimalis ( Ilmu Akal yang diimbangi Batin) merupakan   pendukung SS (namun tisak sepenuhnya sama dengan SS), berdasar logika minimalis (asas mantaat)  hingga tidak menisbikan batin (bukan dogma)  , merupakan keseimbangan dinamis antara  akal (bukan sekedar fikiran) dengan batin (bukan dogma maupun doktrin)

Bedanya SS dengan TM adalah:

a.SS  berdasar keseimbangan akal (individual dan ilmiah) )  dengan  doktrin (dogma yang individual)

b.TM berdasar keseimbangan akal (individual dan ilmiah) dengan batin yang individual.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

4 Balasan ke Benarkah matematika tidak mendefinisikan nol?

  1. Akung Ibnu berkata:

    Binneka Tunggal Ika adalah filosofi menjadikan satu dari yang banyak, berbeda dengan filosofi materialis mereduksi satu menjadi nol.

  2. Akung Ibnu berkata:

    Ketuhanan Yang Maha Esa adalah hasil akal budi manusia untuk mempersatukan bangsa Indondesia yang majemuk (multiplisitas) namun dapat dikembangkan menjadi pemersatu seluruh umat manusia, sedangkan Ketuhanan Yang Maha Kuasa adalah dogma
    untuk mengatur manusia yang tidak takut lagi kepada alam dan lingkungannya.
    Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan dasar dari SS, sedangkan Ketuhanan Yang Maha Kuasa merupakan dasar dari RS.

  3. Akung Ibnu berkata:

    Pak de kutipkan tulisan Bapak Gunawan Muhamad yang berjudul Ateisme dan Tuhan yang Tidak Harus Ada, yang berkaitan dengan Ahli Fikir dan Tukang Kotak Katik:

    Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

    Menurut pak de Ibnu: Tukang Kotak-katik bukan hanya sekedar berfikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-lmu. Jika mau jujur seniman termasuk dalam Tukang Kotak-katik, bukan menghasilkan sesuatu yang metafisik melainkan pendekatan filsafat dengan iman. Pak de bukan mendekatkan filsafat dengan iman melainkan menggagas filsafat ( psychominimalis) yang berdasar akal budi untuk mengimbangi iman.
    Iman adalah penyatuan antara dogma dengan batin, notasi Psm-nya “(<<)' yang menjadikan manusia sanggup menilai budi pekerti/ perbuatan sesamanya (termasuk manusia) yang berbeda iman-nya. Baik dan buruk bukan didasarkan pada iman seseorang yang hanya dapat dinilai oleh Tuhan, melainkan berdasar perbuatan-nya dalam memanfaatkan segala yang disediakan oleh Tuhan YME.

  4. Akung Ibnu berkata:

    Koreksi: Alinea terakhir:
    Iman adalah penyatuan antara dogma dengan batin, notasi Psm-nya “(<<)' yang menjadikan manusia sanggup menilai budi pekerti/ perbuatan sesamanya (termasuk manusia) yang berbeda iman-nya. Baik dan buruk bukan didasarkan pada iman seseorang yang hanya dapat dinilai oleh Tuhan, melainkan berdasar perbuatan-nya dalam memanfaatkan segala yang disediakan oleh Tuhan YME.
    Balas
    Yang benar:
    Iman adalah penyatuan dogma dengan batin, notasi Psm-nya "(<<)'. Dengan akal budi manusia sanggup menilai budi pekerti berdasar perbuatan sesama manusia, baik yang sama imannya maupun yang berbeda imannya. Baik dan buruk tidak atas dasar iman yang hanya dapat diketahui/dinilai oleh Tuhan, melainkan dinilai oleh sesama manusia yang memiliki akal budi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s