Reno yang mandiri dan cerdas.

 Fragmen Stph..

Tgl 15 April 2015. Aku sedang mempersiapan studio untuk shooting Keluarga Sigit yang akan berlebaran di Jogja.

1. Untuk rekaman  Adis yang mumpuni dalam bermain biola.

2. Wicak yang lihai memainkan alat tiup Saxophone.

3. Diskusi dengan Sigit perihal Teori Minimalis gagasanku.

4. Diskusi dengan Yuningtias   mengenai Psychominimalis gagasanku.

Saat aku turun dari lantai dua memasuki ruang makan  di lantai satu kudapati Toni dan Asih sedang  “panik”  karena menerima kabar lewat WA yang menyatakan Reno jatuh di sekolahannya sehingga harus dijahit pada beberapa bagian tubuhnya.

Keluarga Tito baru saja kembali ke Bandung setelah pulang dari Jogya mengikuti kenaikan klas Titus yang sekolah di Simenari. Asih dan Toni  belum kembali ke Jakarta menemani kami, karena  Sri diminta oleh Yulia ke Jakarta.

Dari pembicaraan dikatakan saat itu Tito ada ditempat kejadian sehingga “dipersalahkan” oleh Ika.

“Menurut aku Reno itu tidak stabil, mudah jatuh.”

Pendapatku dibenarkan oleh Toni dan Asih.

“Tapi anak itu sangat mandiri  dan cerdas sehingga sanggup menjaga dirinya.  Tito tak dapat dipersalahkan sebab dia sibuk dengan pekerjaannya, tanggung jawab di kantornya sangat berat. Ika juga tak dapat disalahkan karena mengurus Santal. Musibah dapat dialami oleh siapapun.  Percayalah Jesus akan melindunginya.”

“Amin.”

Aku disibukkan mencari kunci garage barat untuk mengambil kendaraan listrikku karena garage timur sedang  digunakan untuk menempatkan starlet agar siap digunakan. Biasanya starlet ku gudangkan  di garage barat, karena aku tak boleh mengemudi roda empat oleh dokter dan anak-anak.

Toni kami manfaatkan untuk mengemudikan starlet selama dia ada di Yogya. Asih membantu kakaknya di dapur dan menjadi tukang pijat kakaknya.

Aku ke rumah Sri untuk meminjam kunci garage, ternyata Srie sudah berangkat ke Jakarta.

Sebenarnya aku dapat meminta tolong diantar Toni dengan starlet , namun karena mereka sedang ada masalah aku merasa sungkan, apalagi baru saja aku diantar Toni beli gas.

Aku teringat baru saja mengambil uang untuk membeli gas, jadi ada kemungkinan kunci garage ada disekitar almari tempat menyimpan uang. Dugaanku benar, kunci garage kuletakkan di dalam almari. Aku sangat lega dan kuberi tahukan kepada Toni dan Asih yang nampaknya sudah tidak panik lagi.

“Apakah Reno di rawat inap?”

“Tidak, sudah boleh dibawa pulang.”

“Syukurlah.”

Aku teringat saat Reno “dititipkan”  di rumah kami, karena Tito bekerja, Titus sekolah sedangkan Ika berbisnis.  Reno  yang masih kecil dan aku berdua diruang keluarga rumah kami.  Reno bermain sendirian dengan berbagai mainan yang tersedia, sementara aku nonton TV sambil tiduran di sofa. Reno asyik dengan permainannya, tidak menggangguku sama sekali. Aku tertidur, saat bangun Reno telah “lenyap”, namun semua permainannya telah dikembalikan ketempatnya dan tertata  dengan rapih.

Saat itu mbah Harun sudah datang dan mengerjakan pekerjaannya di lantai dua. Kuminta mbah Harun mencari Reno, ternyata dia sudah pulang dan tertidur di rumahnya.

Rumah Tito dan rumah kami dipisahkan oleh rumah  Bambang Oerip sehingga harus melewati jalan Mesan yang sangat ramai, dilewati kendaraan dengan kecepatan tinggi. Dia tidak meminta mbah Harun mengantar pulang, tertapi minta izin sebelum pulang. Mbah Harun akan mengantar pulang, tetapi ditolak karena Reno takut pekaian yang sedang disetrika mbah Harun  hangus.

Untuk ukuran anak  seumur dia  (balita) “perilaku”  Reno kuanggap “luar biasa” sehingga kugolongkan sebagai indigo baby atau anak jenius. Pandangan ini tentu dengan mengamati secara seksama, bukan hanya satu atau dua kali kejadian.

Tertarik? Baca tulisanku selanjutnya.

Sehari sebelum keluarga Tito  kembali ke Bandung aku bertanya kepada Reno: ” Yang Nu dengar dari ibumu Reno bertanya:  Mangapa Reno  harus belajar berdoa dengan bahasa Inggris?”

Dia menganggukkan kepala.

Pertanyaan kulanjutkan : “Lalu Reno bertanya: Apakah di sorga harus berbahasa Inggris?”

Reno mengangguk.

“Bagai mana jawab ibumu?”

“Ya.”

“Reno tidak ingin bertanya kepada Yang Nu?”

Reno menggelengkan kepalanya.

“Lo, kok menggelengkan kepala. Reno ingin bertanya kepada Yang Nu'”

Dia mengangguk.

” Berdoa  boleh menggunakan bahasa apa saja, sebab Jesus mengerti semua bahasa.

Reno mengangguk-anggukkan kepala.

“Mengapa ibumu mengajarkan berdoa dalam bahasa Inggris?”

“Agar Reno belajar bahasa Inggris,” jawab Reno dengan tenang.

Kuajungkan jempol keatas, sebab dia menjawab sesuasi dengan apa yang ku inginkan.

Luar biasa si kecil ini,  sanggup menjawab pertanyaanku hingga tidak mempermasalahkan jawaban ibunya “Ya”  dan pernyataan ku yang cenderung bertentangan dengan jawaban ibunya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s