Aborsi dan risikonya.

Pertanyaan: Apa risiko melakukan aborsi? Apakah aborsi tidak melanggar hukum? Bagaimana menghindarkan diri agar tidak melakukan aborsi?

Jawaban:  Risiko melakukan aborsi:

1. Dari sudut pandang religius:  dosa yang berakibat memperoleh sangsi dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu neraka.

2. Dari sudut pandang science: kerusakan pada organ tubuh yang melakukan aborsi, terutama pada sistem reproduksi perempuan.

3. Dari Sudut pandang Spiritual Ilmiah: melakukan  aborsi artinya “menghalangi” kemaauan spirit yang telah “menguasai” zygote/janin  untuk ditumbuh dan dikembangkan menjadi manusia, sehingga  spirit  akan melakukan “pembalasan”  karena dihalangi untuk mendapatkan organisme baru untuk dikembangkan dan dikendalikan. Spirit akan mempertahankan organisme yang telah dikuasainya agar tetap dilahirkan walau dalam kondisi cacat hingga menjadikan beban bagi yang menghalangi kehendaknya untuk terlahir kembali.

Akung tidak akan menjelaskan sudut pandang religi yang jelas diluar kemampuan akung.

*Dari Sudut pandang Science: rusaknya organ reproduksi akan berakibat fatal, dapat menyebabkan kematian bagi yang melakukan aborsi,  menjadikan organ reproduksi tidak sanggup memroses pertumbuhan janin sehingga menyebabkan janin yang dikandung pada saat melakukan aborsi akan terbunuh atau  terlahir cacat. Bukan hanya itu, anak yang akan dikandung perempuan  yang organ reproduksinya cacat dapat berbasib sama dengan janin yang pernah di habisi dengan cara aborsi dengan cara  sembarangan, tidak melewati proses medis.

Nah maka bagi yang “terpaksa”  melakukan aborsi (misalkan  akan membahayakan keselamatan ibu yang mengandung dan anak yang dikandung, lebih-lebih korban perkodsaan) harus dilakukan  berdasar hukum formal, jika menyimpang dari hukum formal akan memperoleh sangsi.

Kesimpulan aborsi harus dilakukan berdasar hukum buatan manusia, jika melanggar hukum buatan manusia sangsinya juga akan berdasar hukum buatan manusia.

Agar terhindar dari melakuakn aborsi adalah: pengendalian nafsu (birahi) sehingga tidak terbujuk oleh spirit yang berusaha memperoleh organisme baru (janin yang  akan ditumbuhkan tanpa peduli norma yang berlaku bagi pereadaban manusia) .

Perempuan merupakan korban nafsu seksual hanya karena memberi/menggunakan  kesempatan berbuat sesuatu diluar hukum yang berlaku, sedangkan lelaki hanya akan ikut merasakan akibatnya jika dapat dibuktikan berdasar hukum yang berlaku.

Atas dasar itu mereka yang terlahir sebagai perempuan memiliki “beban”/konsekensi lebih  berat  dalam mengendalikan nafsu seksual dibanding lelaki.

Atas dasar itu, maka ilmu pengetahuan (science) berusaha melindungi perempuan dengan “mengizinkan” perempuan yang menjadi korban nafsu lelaki, baik atas kehendaknya atau diluar kehendaknya,  untuk melakukan aborsi sesuai dengan hukum buatan manusia yang berlaku. Tanpa perlindungan hukum buatan manusia lelaki dapat mengumbar nafsu seksnya, lebih-lebih bagi lelaki yang tidak lagi takut pada akibat dosa.

Hukum buatan manusia “memperkenankan aborsi, namun harus dilakukan berdasar hukum buatan manusia.

Hukum Tuhan tidak memperkenankan aborsi karena dipandang sebagai pembunuhan janin yang tak berdosa.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Aborsi dan risikonya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s