Tiga jalan mencapai Kebahagiaan Abadi.

Pertanyaan: Menurut pak de Ibnu , pada Teori Paralogika, ada dua jenis manusia yaitu WB yang dikendalikan oleh soul yang berasal dari sorga (sesuai dengan RS) dan berusaha untuk kembali ke sorga tanpa melalui siklis kehidupan, sedangkan RB dikendalikan oleh spirit yang belum puas dengan kehidupan yang sedang dijalani sehingga ingin hidup kembali dan  berusaha memperoleh organisme “baru”  agar dapat melakukan reincarnasi (sesuai dengan SS).
Yang ingin saya tanyakan: manusia yang tidak mengakui adanya soul maupun spirit karena  beranggapan bahwa dirinya sekedar bagian dari proses biologi atau bio kimia dan digolongkan sebagai manusia dalam tingkatan perkembangan peradaban manusia oleh  pak de Ibnu di golongkan sebagai Materialistic Science (MS) dapatkah  memperoleh  kebahagiaan abadi sebagai jenis WB ( yang akan mencapainya dalam satu kehidupan)  dan RB (yang akan mencapainya dalam beberapa siklis kehidupan)  atau…………… tidak mungkin memperolehnya akibat terbelenggu kenikmatan duniawi?

Jawaban: Ada ungkapan banyak jalan menuju Roma.  Agar dapat sampai ke Roma harus  ada niat/kemauan pergi ke Roma  dan berusaha dengan berbagai cara/jalan untuk sampai ke Roma. Ada ungkapan:  Where is a will there is away. Dimana ada kemauan tersedia  jalan untuk mencapainya, tentu saja harus dengan melakukan upaya untuk mencapainya.

Tuhan YME menyediakan segalanya, yang diinginkan dan yang tidak diinginkan oleh ciptaan Nya. Dia memberi kesadaran kepada setiap ciptaan Nya untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungannya agar dapat memperoleh yang diinginkan sepanjang dapat melakukan upaya/berbuat untuk memperoleh/mewujutkan apa yang diinginkan dan berani menanggung risikonya.

Tuhan memberikan kesempatan untuk merubah nasib , namun harus dilakukan dengan kemauan/niat  dan ” ikhtiar/ perjuangan dan berani menanggung risikonya. Hidup adalah kesempatan untuk memilih dan berusaha mewujutkan pilihannya sehingga yang dilahirkan sebagai WB mungkin saja menjadi RB  pada akhir hidup yang sedang dijalani atau sebaliknya  Yang dilahirkan sebagai RB mungkin saja menjadi WB pada akhir hidup yang sedang dijalani.

Banyak faktor yang ikut menentukan perubahan WB ke RB atau sebaliknya RB ke WB.

 a. Faktor internal, diantaranya pengalaman hidup  yang sedang dijalani.  WB yang terbelenggu oleh kenikmatan duniawi dapat berubah menjadi RB (ingin hidup terus atau hidup kembali) , sebaliknya RB yang telah puas  atau bosan dengan kehidupannya atau sebaliknya sangat menderita dalam kehidupannya cenderung untuk tidak lagi melakukan reincarnasi.

b. Faktor ekternal, diantaranya faktor lingkungan dapat merubah plihan menjadi RB atau WB. dalam menjalani kehidupan yang sedang dijalani.

Tuhan hanya akan merubah nasib umatnya yang berupaya merubah nasibnya, namun  bagi yang ingin merubah nasibnya belum tentu diberikan izin jika dipandang belum pantas untuk mendapatkan izin Nya.

Hidup adalah kesempatan memilih, akan mempertahankan nasib atau merubah nasib, namun yang ikut menentukan keberhasilan pilihan itu  banyak faktor, bukan hanya faktor internal individu, melainkan juga faktor ekternal.

Materialisme memang tidak mengakui adanya sang pengendali yang berupa soul atau spirit, namun kenyataannya mereka meyakini adanya “jiwa” disamping raga; “jiwa” dipandang sebagai bagian dari raga  sehingga akan hancur bersama terdaur ulangnya organisme. Inilah yang menjadikan seseorang tidak mengakui adanya penciptaan  alias  atheis, yang mempertuhan materi dan nalar. Yang menjadi pertanyaan: Mungkinkan seorang atheis dapat diyakinkan adanya kekuatan yang melebihi proses biologi? Jawab pak de :” ada!”.

Seorang atheis yang  kecewa atau gagal mendapatkan  apa yang diinginkan lewat filsafat materialis, diantara kenikmatan dunia,  akan cenderung:

1. Mempercayai janji Tuhan adanya kehidupan yang lebih baik dari kehidupan dunia yang berupa materi, sehingga menjadi budak materi.

2. Tergiur oleh kehebatan spirit yang sanggup melanglang ke segenap penjuru Alam Semesta  tanpa memanfaatkan hasil teknologi yang dikuasai oleh   peradaban manusia di bumi saat ini.

a.MS hanya sanggup menyediakan tempat di bumi dan planet-planet disekitar bumi.  

b.SS menyediakan tempat di seluruh Alam Semesta, di galaksi yang jaraknya jutaan bahkan milyartan tahun perjalanan cahaya yang tidak mungkin dicapai dengan kendaraan bermassa dan hanya mungkin dicapai oleh  kendaraan tidak bermasa atau spirit yang tidak memiliki massa ( namun memiliki energi transien).

c.RS menjanjikan kebahagiaan abadi yang tidak mungkin dicapai dengan kendaraan tidak bermassa (misalnya CSPN) atau di capai oleh living astral body yang kecepatannya melebih cahaya, namun karena memiliki  unsur energi maka  tak mungkin  keluar dari Alam Semesta menuju Alam Abadi. Agar  soul yang mengendalikan living astral body  dapat memperoleh kebahagiaan abadi,  soul harus melepaskan ikatan mata kailnya dengan tubuhnya yang berupa astal body, sebab astral body dibangun oleh energi transien yang berupa eter.

Sebenarnya  semua  living body  termasuk living organisme menginkan kehidupan abadi  namun yang sesuai dengan yang diinginkan.  Berdasar  akal budi  disanapun, di Alam Abadi,  tidak  hanya tersedia kebahagiaan abadi seperti yang diinginkan oleh ciptaan Nya, melainkan juga tersedia yang tidak diinginkan oleh ciptaan Nya. Mengapa?  Alam Abadi juga ciptaan Tuhan YME sehingga disanapun tersedia yang tidak diinginkan oleh ciptaan Nya.

Kesimpulan: Manusia yang tidak mengakui adanya soul dan spirit masih mungkin mencapai kebahagiaan abadi, namun harus “meninggalkan” kenikmatan duniawi yang membelenggunya.

Mereka yang tidak dapat menikmati materi yang tersedia di dunia  cenderung mencari jalan lain agar dapat terlepas dari kekecewaan hidup di dunia. Namun bukan berarti yang telah menikmati kenikmatan dunia tidak menginginkan  yang lebih dari kenikmatan yang sudah didapatnya, ingin mencari yang  melebihi dari yang  telah diperolehnya ,akibat  keserakahannya, sehingga  tidak pernah puas dan mensukuri hidupnya. Namun relakah mereka  yang materialis melepas kenikmatan duniawinya? Selama tidak rela melepaskan kenikmatan duniawi, mustahil memperoleh  kenikmatan  yang tersedia di “dunia” lain, apalagi kebahagiaan abadi.

Bagi yang menyia-nyiakan hidupnya atau sekedar hidup tanpa tujuan (tidak punya cita-cita atau idealisme, tanpa usaha merubah nasibnya) . tidak  akan memperoleh apa yang diinginkan, justru akan mendapatkan yang tidak diinginkan.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tiga jalan mencapai Kebahagiaan Abadi.

  1. Akung Ibnu berkata:

    Sesuai dengan perkembangan peradaban manusia memang seharusnya ada empat jenis manusia: 1. Natural Body (NB) ,2. Whiteblank Body (WB), 3. Materialis Body (MB) dan 4. Reinkarnated Body. (RB), yang semuanya dikendalikan oleh Soul namun dalam “tingkat yang berbeda, hingga cara/sistem pengendaliannya juga berbeda sesuai dengan kemampuan organisme yang dikendalikan. Namun karena semua perbutan living organisme pada dasarnya dikendalikan oleh soul, maka yang harus bertanggung jawab pada yang “mendelegasikan” wewenang untuk mengatur perilaku living organisme adalah soul, bukan organismenya. Soul dapat bertindak sebagai master (gusti) sedangkan organisme bertindak sebagai slave (kawula). Manunggaling kawula gusti secara akal budi bukan dimaksud mempersekutukan Tuhan dengan manusia atau ciptaan Nya berdasar dogma sebagai pengimbang fikiran melaikan atas dasar akal budi, keseimbangan antara akal dengan batin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s