Hukum mati bertentangan dengan Pancasila?

Pertanyaan: Saya sangat kecewa pada  pak de Ibnu karena tidak konsisten, pak de mendukung berlakunya hukuman mati yang jelas bertentangan dengan Pancasila, padahal pak de mengagungkan Pancasila dan memprediksikan Pancasila akan diserap sebagai filosofi pemersatu umat manusia se dunia. Saat ini banyak yang memusuhi Indonesia gara-gara memberlakukan hubuman mati yang telah ditolak oleh peradaban dunia. Bagaimana pertanggungan jawab pak de Ibnu?

Jawaban: Pancasila itu hasil akal budi manusia  sehingga merupakan keseimbangan dinamis antara nalar dengan batin ‘(><)’. Pancasila adalah   hasil akal budi the Founding Father pendiri NKRI untuk mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang majemuk. Pancasila bukan dogma yang harus dipatuhi tanpa menggunakan akal budi.  Pancasila  bukan bagian dari RS yang berdasar keseimbangan fikiran dengan dogma “(><)” Pancasila bukan  agama yang berdasar  iman (penguatan dogma dengan batin) “(<<)’   suatu agama yang diakui di Indonesia, melainkan filosofi bangsa Indonesia untuk menyatukan seluruh bangsa Indonesia yang majemuk ( termasuk berbagai agama yang imannya berbeda-beda).

Hanya dengan akal budi  seseorang dapat menilai budi pekerti seseorang, lebih-lebih yang berbeda imannya. Yang sanggup menilai iman seseorang hanyalah Tuhan, bukan manusia dengan mengatas namakan Tuhan.   Bagaimana menurut kemenankan?

Lebih konyol lagi kemenakan “menyalah gunakan” Pancasila yang pakde prediksikan akan diserap menjadi falsafah pemersatu dunia, dengan dalih Pancasila bertentangan dengan penerapan hukuman mati dan “menyudutkan” bangsa sendiri dengan “menafsirkan” dimusui oleh bangsa-bangsa lain akibat menerapkan hukuman mati. Yang “memusuhi bangsa Indonesia”  akibat memberlakukan hukuman mati bagi mereka yang  jelas membahayakan keselamatan masyarakat  hanya bangsa yang tidak menyadari bahaya penggunaan narkoba dan tindakan biadab yang tidak manusiawi,  atau……… ada kepentingan tertentu.

Pelaksanaan hukuman mati di Indonesia justru atas dasar kesadaran akan bahaya narkoba dan kejahatan biadab, bertujuan menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran, sepanjang dilakukan sesuai dengan norma-norma Pancasila. Kemenakan jangan menafsirkan Pancasila dari sudut pandang iman kemenakan, melaikan harus menggunakan akal budi.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa bukan dogma yang sesuai dengan iman kemenakan,  yang memandang mereka yang imannya berbeda dianggap salah dan yang sama imannya tidak dapat berbuat salah (can do no wrong) , sehingga cenderung melindungi yang semiman dan menisbikan kepentingan yang imannya berbeda apalagi kepentingan seluruh bangsa Indonesia. Iman harus diimbangi akal budi agar tidak terjerumus dalam superior imanis, merasa paling benar  dengan  mengatas namakan Tuhan untuk melindungi mereka yang seiman walau telah melakukan perbuatan  yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan. 

2. Perikemanusian yang adil dan beradab. Apakah  adil mereka yang membunuh secara berangsur (meracuni) atau seketika (bom waktu)  dan kekejaman diluar peri kemanusiaan dibiarkan karena diyakini atas dasar iman akan  masuk neraka, tanpa upaya memberlakukan hukum buatan manusia berdasar akal budi? Apakah yang melakukan perbuatan “merendahkan martabat” manusia dengan perbuatan keji  itu beradab sehingga harus dilindungi oleh Pancasila?

Cukup dengan dua argumen saja dapat dibuktikan bahwa hukuman mati  tidak bertentangan dengan Pancasila sebagai hasil akal budi manusia untuk menyelamatkan umat manusia/ khususnya rakyat Indonesia yang berbeda-beda imannya dan berbeda-beda kepentingannya.

Sebagai bangsa Indonesia kemenakan seharusnya lebih mencintai bangsanya yang terancam “keselamatannya”  dibanding  membela yang seiman padahal sudah terbukti berbuat yang tidak sesuai dengan imannya (kasih sayang pada sesamanya).

Prediksi pak de bahwa  Pancasila akan diserap menjadi filosofi pemersatu manusia sedunia jika Pancasila dapat membuktikan sanggup mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang majemuk. Jika ternyata ada yang menyalah gunakan Pancasila untuk  melindungi kepentingan  golongannya, sehingga menimbulkan mala pertaka bagi persatuan bangsa Indonesia, yang terjadi adalah sebaliknya Pancasila akan dilecehkan!

Pak de jelas tidak rela Pancasila disalah gunakan oleh siapapun demi kepentingan seseorang, kelompok yang menjadikan Pancasila sekedar basa basi, tidak menjiwai dan mengamalkan.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Hukum mati bertentangan dengan Pancasila?

  1. Akung Ibnu berkata:

    I. Mereka yang hanya menggunakan akalnya, tanpa diimbangi batin, akan merasa paling pintar hingga mengira orang lain dapat di kibulin/diakali.
    II. Mereka yang hanya menggunakan batinnya ada dua kemungkinan:
    1. Yang batinnya baik akan menganggap semua orang baik sehingga tidak mau melihat kenyataan bahwa tidak semua orang baik seperti dirinya akibatnya mudah dikibulin.
    2. Yang batinnya buruk/jahat akan cenderung menganggap semua orang jahat seperti dirinya, sehingga tidak mempercayai orang lain, termasuk para penegak hukum yang telah menjalankan tugasnya secara benar. Ini namanya krisis kepercayaan!

    Hanya dengan memanfaakan akal budi, seseorang dapat menilai orang lain secara proporsional, tidak membedakan yang sama atau berbeda imannya, melainkan berdasar perilaku dan perbuatannya. Inilah sebabnya iman harus diimbangi dengan akal budi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s