Bedanya mandiri, maunya sendiri dan semau-maunya sendiri/

Pertanyaan: Menurut pak de Ibnu, kematian adalah terpisahkan kawula Gusti, dilain fihak pak de menyatakan Tuhan  YME memberi kesempatan untuk memilih: a.  menjadi pemimpin yang sanggup mengatur pengikutnya, b. menjadi pengikut yang patuh pada yang memimpin dan c. mandiri, tidak menjadi pemimpin dan tidak menjadi pengikut.
Yang ingin saya tanyakan: Apakah seorang yang mandiri  tidak menjadi kawula dan tidak menjadi gusti sama artinya dengan telah memilih salah satu: menjadi kawula saja atau menjadi Gusti saja, yang artinya sudah tidak lagi hidup, alias sudah mati?

Jawaban: Harus dibedakan antara; a. mandiri, bmaunya sendiri dan c. semau-maunya sendiri:

a. Mandiri artinyamenyatunya (*)  kawula Gusti, bukan terpisahkan kawula dengan Gusti sehingga hanya menjadi kawula saja (tak memiliki Gusti)  atau menjadi  Gusti saja (tak memiliki kawula).

Seorang yang mandiri sanggup mengurusi dirinya sehingga tidak bergantung dan tidak digantungi oleh fihak lain. Tidak bergantung bukan berarti tidak membutuhkan  melainkan mempunyai kemampuan ” tidak selalu” bergantung pada fihak lain, dalam istilah  bisnis memiliki bargining/harga tawar  tinggi. Digantungi artinya harus bertanggung jawab  pada yang dipimpin, akibat dipercaya atau mendapatkan hak prerogatif dari yang dipimpin.

Seorang yang mandiri bersikap kritis, dia akan menjadi murid dalam menimba ilmu, bukan  sekedar pengikut yang mencari kedudukan atau  hadiah dari pemimpinnya. Seorang murid bebas mengembangkan ilmu yang diterima dari gurunya sehingga ilmunya sanggup melebihi sang guru.

b. maunya sendiri: artinya tidak dapat diatur oleh siapapun namun tidak konsekwen karena ternyata justru menggantungkan diri pada fihak lain dan lingkungannya.

c. semau-maunya sendiri: artinya: tidak peduli terhadap fihak lain  dan  berbuat sekehendaknya sehingga “merugikan/ mencederai’ fihak lain dan lingkungannya. Dalam Fiksi Blackhole yang berlatar belakang abad ke 30: Som Xiang menyatakan: bebas berkeyakinan dan berfikir, namun tidak bebas berbuat, sebab perbuatan dapat berdampak pada jenis dan lingkungannya. Max Freud menyatakan: perbuatan adalah perwujutan dari keyakinan dan fikiran, sehingga agar perbuatannya tidak merugikan/mencederai jenis dan lingkungannya harus dibiasakan berkeyakinan  dan berfikiran yang tidak mencederai/merugikan diri sendiri, jenis dan lingkungannya.

Alam Semesta memiliki herarki, sehingga seorang pemimpin dalam masyarakat B, mungkin merupakan pengikut dalam masyarakat A yang lebih besar. Seorang pengikut dalam masyarakat C  mungkin menjadi pemimpin dalam masyarakat D yang lebih kecil.

Seorang yang mandiri masih membutuhkan fihak lain atau dibutuhkan oleh fihak lain, namun mempunyai kemampuan untuk tidak selalu bergantung pada fihak lain, namun suatu saat membutuhkan fihak lain, sehingga  berdasar akal budi jangan bersikap semau sendiri apalagi semau-maunya sendiri. Mengapa? Alam Semesta dikuasai dimensi waktu, sehingga berlakulah “cakra panggilingan”, suatu saat dibutuhkan  pada saat yang lain membutuhkan fihak lain.

Tuhan YME membekalkan kepada setiap  energi yang membentuk macrocosmos untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungan masing-masing, sehingga Alam Semesta dapat teratur (cosmos), namun dapat menjadi kacau (chaos). Jika semua diatur oleh Sang Pencipta, secara akal budi  Alam Semesta akan selalu teratur, sebab yang tidak mematuhi tatanan Nya dengan mudah akan dilenyapkan oleh  Tuhan Yang  Maha Kuasa, sebab Dia menentukan segalanya.

Kenyataanya Alam Semesta dapat menjadi kacau akibat berebut kepentingan diantarapenghuninya”. Kondisi chaos akan kembali cosmos saat masing-masing telah menyadari kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bersama. Mengapa? Sebelum mencipta Dia telah menyiapkan hukum untuk mengaturnya, yaitu Hukum Ekologi Alam Semesta (HEAS). Alam Semesta bagaikan sebuah rumah, sedangkan  energi yang membentuk macrocosmos adalah penghuninya. Penghuni berlaku sebagai kawula sedangkan  Alam Semesta sebagai Gusti. Agar tetap “hidup” rumah dan penghuninya harus manunggal, saling memberi dan menerima.

Disamping macrocosmos Tuhan YME juga menciptakan microcosmos. Microcosmos merupakan individu  hasil interaksi body yang tersusun dari energi dengan soul yang merupakan bagian dari non energi. Menurut TM plus Alam Semesta juga terisi oleh Non Energi yang sanggup keluar masuk Alam Semesta menuju Alam Abadi  atas kehendak Tuhan YME. Soul merupakan penanggung jawab atas perilaku/perbuatan body (tubuh)  yang dikendalikan, maka soul dapat dipandang sebagai Gusti yang diberi kesempatan untuk mengatur body.

Microcosmos merupakan individu makhluk hidup sehingga terbentuklah tujuh lapis makhluk hidup: 1. Living organisme, 2. Living Astral Body,  3. Living Dark Body, 4. Living Bright Body, 5.  Talent Body, 6. Holly Body dan 7. Non Body.

Soul diberi kesempatan, diberi wewenang,  oleh Tuhan YME  untuk mengatur Living Body, sehingga harus bertanggung jawab pada Yang Memberi Wewenang atau  yang memberi kesempatan untuk mengatur body. Atas dasar akal budi, soul bukanlah Tuhan melainkan yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengatur body, sehingga manunggaling kawula Gusti bukan berarti mempersekutukan Tuhan dengan ciptaan Nya, melainkan manunggaling kawula dengan yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengendalikan body yang tersusun dari energi.

Dengan akal budi manusia dapat memahami makna  macrocosmos dan microcomos yang saling melengkapi isi Alam Semesta. Macrocosmos merupakan kawula sedangkan microcosmos adalah Gusti.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s